Alhamdulillah, setelah satu setengah bulan menjalankan toilet training siang hari, pada bulan Maret ini, Ziyad Syaikhan bisa mulai ‘lepas panpers’ pada malam hari.

Awalnya aku dan suami berniat menjalankan (mencoba) ide frugal yang aku telah posting kemarin (soalnya kami sendiri belum pernah mencobanya). Jadilah kami di awal bulan membeli panpers Mamy Poko dua buah. Perkiraanku, ketika satunya dicuci, paling tidak ada persediaan satu lagi untuk dipakai. Kemudian aku membeli panpers uukuran XL isi 20, jaga-jaga untuk dipakai ketika berpergian.

Malam pertama, aku masih kenakan ke Ziyad panpers Momy Poko tersebut. Ide suami sih ini sebenarnya. Paginya aku buang isi panpers yang sudah kena pipis tersebut, kemudian aku cuci seperti mencuci baju lainnya. Kemudian sambil itu, aku masih menunda sekaligus berpikir bagaimana menerapkan secara enak metode itu. Karena berarti harus ada kain yang diisikan ke panpers. Dan alternatifnya yang paling enak sepertinya mengisi dengan popok. Aku pikir tidak bagus untuk kulit Ziyad kalau langsung kugunakan popok yang sudah aku simpan hampir 1 setengah tahun yang lalu. Mesti ada binatang-binatang kecil yang bersarang di situ. Jadi, aku pikir paling tidak ,aku harus menyetrikanya.

Alhasil, setelah berputar-putar berpikir dan mempertimbangkan semuanya, aku memutuskan, “Sekarang saatnya”, untuk mulai mengajarkan toilet training di malam hari (alias tidak jadi menerapkan metode isi panpers dengan kain tersebut). Pertimbangannya,

1. Tidak nyaman untuk Ziyad.

2. Sama saja pilihannya, yaitu aku harus bangun di malam hari. Baik untuk mengganti kain yang mungkin sudah dikencingi, atau bangun untuk mengantarkan Ziyad ke kamar mandi.

Hasilnya?

Alhamdulillah…Senaaannggg bangetS!! Ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Karena pada malam hari (waktu tidur), Ziyad memang jarang pipis. Aku hanya perlu bangun sekali untuk membawanya ke kamar mandi. Membawanya??

Yup, sekedar mengendong, kemudian aku taruh dipangkuanku, kemudian kakinya aku pijakkan ke lantai supaya dia merasakan dinginnya. Hebatnya, Ziyad tetap tidur walaupun aku begitukan. Kemudian aku siram-siram sedikit kaki dan penisnya dengan air. Pipislah dia…Hehehe. Setelah acara siram-siram ke bagian-bagian yang kena pipis dan terciprat, aku bawa lagi ke kamar dan masing-masing melanjutkan tidurnya. Hehehe…

Panpers Momy Poko yang satunya sampai sekarang masih belum terpakai lho. Siang hari, misalnya kami ajak Ziyad Syaikhan keluar, ternyata ia tetap tidak pipis (walaupun perginya selama 2 jam). Sampai di rumah, biasanya langsung aku cek, dan ketika bersih dari pipis, langsung aku suruh pipis di kamar mandi. Jadilah panpersnya aku simpan lagi. Sudah berapa kali seperti itu. Alhamdulillah, panpers yang kubeli kemarin yang bentuknya celana. Jadi, tidak ada masalah dengan perekat (yang mungkin akan aus kalau berkali-kali dibuka tutup).

Begitulah Ibu-Ibu. Hehehe…Setelah hiruk pikuk di dua minggu pertama toilet training, di bulan kedua ini, alhamdulillah hasilnya sudah dapat dikecap sedikit demi sedikit. Bukan berarti sudah bisa leha-leha (santai) lho. Karena aku tetap menjadwalkan satu jam sekali mengantarkan Ziyad Syaikhan pipis di siang hari. Kemudahannya sekarang adalah Ziyad bisa disuruh untuk pipis walaupun yang keluar sedikit ketika sudah di kamar mandi. Kalau dulu awal-awal, bisa-bisa 10 menit di kamar mandi, kalau Ziyad lagi tidak ingin pipis ya tidak akan keluar pipis itu.

Mudah-mudahan Allah memberi kesabaran untuk meneruskan toilet training ini. Insya Allah kalau Ziyad sudah lancar bicara, ia akan lebih mudah menyampaikan kalau “Uridu an abul ya Umi…” Hehehe…

Advertisements

Jah dan Jajah…

January 22, 2009

Sebenarnya maksudnya Jam dan Gajah. Dua kata yang baru bisa dilafalkan oleh Ziyad Syaikhan. Hehehe…

Sebenarnya sudah dari bulan kemarin. Tapi apa daya, dah tau alasannya kan kenapa jarang posting. ^_^

Sekarang ini masuk hari ke-4, mengajarkan Ziyad menyadari kalau dia itu pipis. Hari pertama dan kedua masih gak nyadar. Dan masih sering suka kebabaslan (ngompol). Hari ketiga…ya masih rada-rada. Tadi malam tapi aku dah gak enak badan, jadinya jam 21.30 wib, setelah ngajak dia pipis di kamar mandi tapi gak pipis-pipis, aku pakaikan panpers lagi. Jam 22.10 wib, tiba-tiba Ziyad yang masih main-main melihat ke bawah.

“Kenapa sayang…? Pipis ya?”

Waktu aku pegang panpersnya terasa hangat. Hihihi…berarti dia sudah mulai sadar waktu pipis. Hari ini dah dua kali berhasil nyuruh dia ngeluarin pipisnya di kamar mandi. Frekuensinya kalau siang hari, 1 jam sekali.

Alhamdulillah kalau tidur sore, walaupun 3 jam tidur, dia ga ngompol.

Masih harus berjuang. Mudah-mudahan bisa cepat lepas dari panpers ya nak…Aamiiin
J

Masa Corat-Coret…

December 27, 2008

Akhirnya masa itu tiba…

Dulu, waktu belum menikah dan punya anak, rasanya aneh mendengar tamu orang tua yang mengatakan, “Duh…rumahnya penuh coretan.”

Yang ada di otak waktu itu, “Emangnya gak bisa dihalangin apa?”

Ternyata…

Kalau pinjam kata-kata yang biasa bang hen pakai, “Berarti dek, corat coret itu gak perlu diajarin. Coret-coret itu reflek.”

Tahu-tahu, barang-barang di rumah kami juga sudah ada coret-coretan di sana-sini. Awal-awal masih belum sadar. Padahal kita sudah membelikan papan yang memang khusus buat bayi corat-coret. Tapi, ziyad gak selalu bisa dilarang memegang pena atau spidol. Natural aja semuanya terjadi.

Waktu sedang beres-beres rumah, lihat CPU “Heh! Kok ada coret-coret. Kapan nyoretnya nih?!”
Waktu lagi asyik tidur-tiduran, lihat container plastik “Lho! Kok ada coretan juga!”
Buku catatan ide bang Hen (Lucu lihat reaksi bang Hen waktu tiba-tiba dapat ide terus mau mencatat di bukunya), “HaduHH! *Sambil geleng-geleng dan ketawa miris*”

Lantai evamatnya juga… Mungkin kalau dinding rumahnya mulus bercat juga bakal kena jadi sasaran. (kan dinding rumah kami masih natural berbata-bata. Hehehe…)

Mengidolakan sang Abi

Memang pernah baca di suatu artikel di suatu tabloid, masa bayi usia sampai 2 tahun akan sangat mengidolakan ayahnya. Sehingga banyak perilaku yang akan dia tiru dari sang ayah. Begitu pula yang terjadi dengan Ziyad Syaikhan. Apalagi bang Hen sangat suka melakukan permainan-permainan yang sulit untuk dijelaskan (mungkin para ayah tahu maksud permainan orang tua di sini). Dari cara tertawa, bermain, semuanya dia perhatikan dari bang Hen, dan dengan cepat dia tiru. Bahkan ketawa bang Hen yang cuma pura-pura, diikuti juga. Jadinya aneh melihat seorang bayi, tapi tertawa sok bijaksana dengan nada tertawa yang dibuat-buat pula.

Puzzle dan Match Game

Awalnya…gak sadar kalau itu adalah hasil prakarya Syaikhan. Kalau sedang beres-beres rumah, salah satu yang tiap hari dibereskan adalah lantai evamat yang berukuran 2×2 m. Memang sejak umur sekitar 1.1 bulan, dia mulai suka membongkar-bongkar puzzle evamat itu. Tapi belum memasangnya. Nah, ketika beres-beres itu, suka ada bagian yang terpasang, tapi terbalik posisinya. Suatu saat aku melihat Syaikhan sedang asyik bertekur di satu tempat (jarang-jarang nih!). Ternyata dia sibuk memasang puzzle roda untuk evamat yang bergambar sepeda. Wuah…senangnya. (lagi mikir-mikir, sesuai dengan tahap perkembangannya gak ya. Soalnya dulu ngajar anak 3 tahun belum bisa main puzzle tuh).

Karena kemarin banyak juga point perkembangan yang ketinggalan, dan sekarang juga dah nambah lagi perkembangan lainnya, sekalian aja deh dijadikan satu. Soalnya ada juga poin yang kemarin, pada bulan ke-16 ini berkembang kemampuannya. Apa sajakah itu??

Mulai Bisa Duduk Tegak Sendiri
Gimana ya membahasakannya. Intinya sebenarnya, sebelum-sebelumnya pun dia dah bisa duduk sendiri. Tapi yang ini posisinya duduk seperti di bangku. Wah… dia seneng banget. Kemarin-kemarin biasanya dia ngambil posisi duduk di meja pendek. Tapi kakinya tetap menjuntai-juntai. Akhirnya meja lipat pun juga jadi sasaran duduk. Alhamdulillah beberapa hari yang lalu, bang Hen sempatin beli kursi kecil merk Lion Star. Persis banget kaya punyaku yang di Jakarta. Itu dari aku kecil sampai aku seumur sekarang masih awet lho. Modelnya gak aneh-aneh kok. Polos aja. Cuma yang ini ada gambarnya di tempat dudukannya. Mungkin punyaku yang di Jakarta, dulu juga ada gambarnya ya? Aus di makan usia. Huhuhuh…

Makannya Tetap Susah

Untuk urusan makan nih, susaahhh banget. Sampai-sampai kalau bangun tidur tuh rasanya mau nangis, pusing mikirin “Hari ini kasih makan apa ya buat Syaikhan???” Soalnya kadang (sering ding), udah dibikinin susah-susah, ternyata dia juga tetap gak mau makan. Hik…alternatif sebulan ini, biasanya pakai Taro. Sadar banget sih kalau itu ada MSG-nya. Banyak malah. Tapi gimana. Soalnya walau lapar, kalau memang gak mau makan, ya dia gak makan. Tapi kalau disodorin nasi pakai taro, atau kita bilangin, “Taro…taroo..”, buka deh mulutnya.

Kemarin tapi seneng banget, dia lahap banget pas aku bikin lemper dadakan. Lagi senang, boleh ngambil daun pisang tetangga. (Kan ngeri loh kalau pakai barang-barang haram, mau kaya gimana do’a gak terkabul kalau dah mengkonsumsi barang haram, wal ‘iyya dzu billah). Sempat juga kemarin aku gorengin limpa sisa makan kemarin. Wahh…lahap sekali. Coba tiap hari ya Sayaang…

Hasil Ajaran Mulai dari yang Kanan

Alhamdulillah, pembiasaaan pemakaian baju yang dimulai kaki kanan dan lepas baju celana yang dimulai dengan kaki kiri juga sudah menampakkan hasilnya. Misalnya habis mandi terus dipakaikan baju, nanti dia nyodorin tangan kanannya dulu. Kelihatannya sepele ya? Padahal ini sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Dan aku perhatikan, sudah berapa orang ya… yang terjadi justru sebaliknya. Sewaktu memakaikan baju ke anaknya atau ke anak kecil, mulainya malah tangan kiri duluan. Eh..pas lepas baju malah yang kanan duluan. Kalau sedang lepas baju, biasanya lepas celana ding yang keliatan, nanti yang berdiri kaki kiri duluan (jadinya kita kan bisa ngelepasin bagian celana yang kiri dulu tuh). Masalah pakai sandal juga gitu lho. Karena dah dibiasain kaki kanan duluan, biasanya dia kalau kita mau pakaikan sandal, juga dah nyodorin kaki kanan duluan.

Yang masih susah dibilangin tuh, makan pakai tangan kanan. Yang ini masih lupaaa terus. Padahal baru 1 detik yang lalu dibilangin, tetap nanti tau-tau yang masukin makanan tangan kiri. Setidaknya usianya masih 16 bulan ya. Mudah-mudahan insya Allah masih bisa dibentuk. Yang susah tuh, orang dah gede, tapi susah dibilangin kalau makan dan minum pakai tangan kiri. (Padahal hukum makan dan minum dengan tangan kiri bukan sekedar makruh lho, tapi haram). Ada aja alasannya, yang kidal gimana dsb. Padahal gak ada pengecualian dalam hal ini, karena yang seperti ini bisa dilatih insya Allah.

Yang lebih menyedihkan lagi adalah, ketika kita susah payah melatih anak kita makan dan minum dengan tangan kanan, tapi ya itu, orang-orang di sekitar kita makan dan minum dengan tangan kiri (dengan santainya pula). Asli lho, masalah ini nih, masalah kebiasaan. Soalnya dulu aku refleknya juga pas minum pakai tangan kiri. Ini sebenarnya hasil budaya barat lho. Bukan dariIslam. Karena kalau di Islam, makan pakai tangan kanan, (dan walaupun tangannya kotor bekas makan), minumnya juga tetap pakai tangan kanan. Apa susahnya sih nyuci gelas sebentar, daripada melanggar perintah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.

Reflek Mandi dan Naik Tangga
Yang ini lucu. Kalau dibuka baju dan celananya (padahal maksudnya cuma mau ganti baju dan celananya yang sudah belepotan), ternyata dia langsung lari ke kamar mandi.
“Ehhh…Syaikah gak mandi kokk…Umi cuma mau gantiin baju Syaikhan…”

Bang Hen yang melihat kejadian itu langsung ketawa geli. Pernah juga aku lepas celananya aja, dia juga langsung mau lari ke kamar mandi. Kalau yang ini bukan mau mandi. Soalnya kebiasaan juga nyuci kakinya yang kotor banget kalau dah main seharian (hasil nginjek makanan etc yang berceceran di lantai).
Kalau reflek mau naik tangga tuh kalau pakai sendal. Jadi, kalau aku dah memakaikan sendal, langsung dia manjat tangga. (Padahal belum tentu juga). Tapi kalau emang pas lagi mau aku ajakin ke lantai atas, paling aku sibuk nyuruh dia menunggu,

“Intadziirr…intadzirr…” (Tunggu! Tunggu!)

Berhubung sejak minggu kemarin, mulai sering diajak jalan keluar (tanpa kereta), sekarang kalau pakai sendal dia gak selalu langsung ke tangga. Malah seneng banget kali yaa kalau mau diajakin keluar. Tapi karena lagi hujan terus, ya gak selalu bisa diajak keluar.

Mulai Susah Dilarang
Kalau kemarin-kemarin, sekali panggilan keras dia langsung nengok dan menghentikan aksi yang sedang dilakukannya, sekarang-sekarang agak susah menghentikan atau melarang ulahnya. Malah seringnya, dia melanjutkan aksinya. Bikin Abi sama Umi emosi dehhh…Mesti benar-benar ditangani terjun ke lapangan dia beraksi. Hehehe…Gak bisa kalau cuma dipanggil atau dilarang pakai omongan. Harus langsung ditarik atau kita tahan badannya. Yaa…aku sama bang Hen masih belajar tidak menampakkan emosi itu. Kadang kelepasan keluar eluhan, – dan ini ternyata ditiru juga sama Syaikhan-. Jadi, mesti banyak-banyak tarik napas dan kontrol nada suara.

Ada juga kebiasaan bang Hen yang memberi pukulan di meja atau benda di dekat Syaikhan (maksudnya seperti ancaman gitu kali ya), ternyata diserap secara negatif oleh Syaikhan. Kalau dia tidak mendapatkan keinginannya, sekarang dia mukul-mukul benda-benda di sekitarnya (termasuk Uminya). Jadi bahan koreksi deh buat bang Hen. Kalau kebiasaan negatifku yang aku sadar setelah ada Syaikhan adalah menunjuk dengan tangan kiri. Wah, jadi orang tua itu, membelajarkan anak dan membelajarkan diri sendiri lho ternyata. Soalnya kan kita maunya anak itu hasilnya positif toh, kalau kitanya negatif kayanya naif banget melatih anaknya untuk positif kan? Dalam segala hal lho. Kalau yang ini, bang Hen yang mengingatkan. Aku pikir tadinya gak ada masalah. Sampai aku dengerin kajiannya ust. Armen Halem Naro rahimahullah, ternyata menunjuk dengan tangan kiri tuh termasuk perendahan terhadap orang yang diajak berbicara juga ya. Yah, pokoknya negatif deh. Jadinya, kalau yang ini jadi bahan koreksi buat aku sendiri.

Bisa diPerintah
Mungkin aku sama bang Hen mesti menemukan cara melarang dengan metode perintah yang tepat. Soalnya kalau diperintah, Syaikhan akan berusaha melaksanakan perintah itu. Misalnya disuruh ambil sesuatu,
“Khudz!! Khudzz.!! Hunaaak….Ambil….Itu di sanaaa…Khudzz!!”
Dia langsung celingukan deh, terus ngambil sesuatu, walau kadang gak tepat. Soalnya arah pandangan dia masih belum tepat dengan barang yang kita tunjuk. Atau kalau kita suruh duduk, dia langsung duduk. Kita bilang, bobo, dia langsung ngerebahin kepalanya. Perintah lainnya yang dia ngerti,
“Tutuuupp…tutup…ighlaq ighlaq! ” (tutup kulkas)
“Taruh…taruh! Dlo’ Dlo’! (meletakkan barang)
“Kasih Umi…kasih umi…” (memberikan barang)

Bisa Adzan

Hehehe…yang ini ga serius keluar kata Allahu AKbar lah ya…orang belum ada kata satupun yang secara jelas dia benar pengucapannya. Kejadiannya, waktu dia seperti biasa minta diceritain isi gambar-gambar yang ada di majalah. Waktu itu yang dipegang majalah Tashfia (yang udah ga terbit lagi). Kan’ banyak gambar mesjidnya. Terus aku ceritain deh…

“Ini masjidd…..Ini tempat orang sholat. Ini menaranya. Kalau adzan kedengeran dari sini. Allahu Akbar Allaaaahu AKbar…”

Aku lanjutin deh adzannya….Ehhhh ternyata dia menyenandungkan adzan juga lho. Abis itu kalau ditunjukkan gambar masjid, atau Abi mencontohkan adzan juga, dia langsung adzan juga.

“Enggg…..ennnnnnnggg engggg….”

Yang heran itu tadi malam. Seperti biasa, kalau kita sedang kerja di depan komputer, ada saat-saat dia nyelip ke pangkuan kita. Tadi malam di kasih liat gambar-gambar yang ada di komputer sama bang Hen. Eh..pas dikasih liat gambar Masjidil Haram yang dari luar angkasa (padahal kan gak keliatan gambar masjid lho), dan kita gak ngomong apa-apa, tau-tau dia mulai adzan. Waahh…subhanallahh….

Mudah-mudahan jadi ulama ya sayang…atau jadi yang lainnya asal bermanfaat untuk orang banyak terutama untuk membantu agama Allah. Aamiin…

Karena kemarin banyak juga point perkembangan yang ketinggalan, dan sekarang juga dah nambah lagi perkembangan lainnya, sekalian aja deh dijadikan satu. Soalnya ada juga poin yang kemarin, pada bulan ke-16 ini berkembang kemampuannya. Apa sajakah itu??

Mulai Bisa Duduk Tegak Sendiri
Gimana ya membahasakannya. Intinya sebenarnya, sebelum-sebelumnya pun dia dah bisa duduk sendiri. Tapi yang ini posisinya duduk seperti di bangku. Wah… dia seneng banget. Kemarin-kemarin biasanya dia ngambil posisi duduk di meja pendek. Tapi kakinya tetap menjuntai-juntai. Akhirnya meja lipat pun juga jadi sasaran duduk. Alhamdulillah beberapa hari yang lalu, bang Hen sempatin beli kursi kecil merk Lion Star. Persis banget kaya punyaku yang di Jakarta. Itu dari aku kecil sampai aku seumur sekarang masih awet lho. Modelnya gak aneh-aneh kok. Polos aja. Cuma yang ini ada gambarnya di tempat dudukannya. Mungkin punyaku yang di Jakarta, dulu juga ada gambarnya ya? Aus di makan usia. Huhuhuh…

Makannya Tetap Susah

Untuk urusan makan nih, susaahhh banget. Sampai-sampai kalau bangun tidur tuh rasanya mau nangis, pusing mikirin “Hari ini kasih makan apa ya buat Syaikhan???” Soalnya kadang (sering ding), udah dibikinin susah-susah, ternyata dia juga tetap gak mau makan. Hik…alternatif sebulan ini, biasanya pakai Taro. Sadar banget sih kalau itu ada MSG-nya. Banyak malah. Tapi gimana. Soalnya walau lapar, kalau memang gak mau makan, ya dia gak makan. Tapi kalau disodorin nasi pakai taro, atau kita bilangin, “Taro…taroo..”, buka deh mulutnya.

Kemarin tapi seneng banget, dia lahap banget pas aku bikin lemper dadakan. Lagi senang, boleh ngambil daun pisang tetangga. (Kan ngeri loh kalau pakai barang-barang haram, mau kaya gimana do’a gak terkabul kalau dah mengkonsumsi barang haram, wal ‘iyya dzu billah). Sempat juga kemarin aku gorengin limpa sisa makan kemarin. Wahh…lahap sekali. Coba tiap hari ya Sayaang…

Hasil Ajaran Mulai dari yang Kanan

Alhamdulillah, pembiasaaan pemakaian baju yang dimulai kaki kanan dan lepas baju celana yang dimulai dengan kaki kiri juga sudah menampakkan hasilnya. Misalnya habis mandi terus dipakaikan baju, nanti dia nyodorin tangan kanannya dulu. Kelihatannya sepele ya? Padahal ini sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Dan aku perhatikan, sudah berapa orang ya… yang terjadi justru sebaliknya. Sewaktu memakaikan baju ke anaknya atau ke anak kecil, mulainya malah tangan kiri duluan. Eh..pas lepas baju malah yang kanan duluan. Kalau sedang lepas baju, biasanya lepas celana ding yang keliatan, nanti yang berdiri kaki kiri duluan (jadinya kita kan bisa ngelepasin bagian celana yang kiri dulu tuh). Masalah pakai sandal juga gitu lho. Karena dah dibiasain kaki kanan duluan, biasanya dia kalau kita mau pakaikan sandal, juga dah nyodorin kaki kanan duluan.

Yang masih susah dibilangin tuh, makan pakai tangan kanan. Yang ini masih lupaaa terus. Padahal baru 1 detik yang lalu dibilangin, tetap nanti tau-tau yang masukin makanan tangan kiri. Setidaknya usianya masih 16 bulan ya. Mudah-mudahan insya Allah masih bisa dibentuk. Yang susah tuh, orang dah gede, tapi susah dibilangin kalau makan dan minum pakai tangan kiri. (Padahal hukum makan dan minum dengan tangan kiri bukan sekedar makruh lho, tapi haram). Ada aja alasannya, yang kidal gimana dsb. Padahal gak ada pengecualian dalam hal ini, karena yang seperti ini bisa dilatih insya Allah.

Yang lebih menyedihkan lagi adalah, ketika kita susah payah melatih anak kita makan dan minum dengan tangan kanan, tapi ya itu, orang-orang di sekitar kita makan dan minum dengan tangan kiri (dengan santainya pula). Asli lho, masalah ini nih, masalah kebiasaan. Soalnya dulu aku refleknya juga pas minum pakai tangan kiri. Ini sebenarnya hasil budaya barat lho. Bukan dariIslam. Karena kalau di Islam, makan pakai tangan kanan, (dan walaupun tangannya kotor bekas makan), minumnya juga tetap pakai tangan kanan. Apa susahnya sih nyuci gelas sebentar, daripada melanggar perintah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.

Reflek Mandi dan Naik Tangga
Yang ini lucu. Kalau dibuka baju dan celananya (padahal maksudnya cuma mau ganti baju dan celananya yang sudah belepotan), ternyata dia langsung lari ke kamar mandi.
“Ehhh…Syaikah gak mandi kokk…Umi cuma mau gantiin baju Syaikhan…”

Bang Hen yang melihat kejadian itu langsung ketawa geli. Pernah juga aku lepas celananya aja, dia juga langsung mau lari ke kamar mandi. Kalau yang ini bukan mau mandi. Soalnya kebiasaan juga nyuci kakinya yang kotor banget kalau dah main seharian (hasil nginjek makanan etc yang berceceran di lantai).
Kalau reflek mau naik tangga tuh kalau pakai sendal. Jadi, kalau aku dah memakaikan sendal, langsung dia manjat tangga. (Padahal belum tentu juga). Tapi kalau emang pas lagi mau aku ajakin ke lantai atas, paling aku sibuk nyuruh dia menunggu,

“Intadziirr…intadzirr…” (Tunggu! Tunggu!)

Berhubung sejak minggu kemarin, mulai sering diajak jalan keluar (tanpa kereta), sekarang kalau pakai sendal dia gak selalu langsung ke tangga. Malah seneng banget kali yaa kalau mau diajakin keluar. Tapi karena lagi hujan terus, ya gak selalu bisa diajak keluar.

Mulai Susah Dilarang
Kalau kemarin-kemarin, sekali panggilan keras dia langsung nengok dan menghentikan aksi yang sedang dilakukannya, sekarang-sekarang agak susah menghentikan atau melarang ulahnya. Malah seringnya, dia melanjutkan aksinya. Bikin Abi sama Umi emosi dehhh…Mesti benar-benar ditangani terjun ke lapangan dia beraksi. Hehehe…Gak bisa kalau cuma dipanggil atau dilarang pakai omongan. Harus langsung ditarik atau kita tahan badannya. Yaa…aku sama bang Hen masih belajar tidak menampakkan emosi itu. Kadang kelepasan keluar eluhan, – dan ini ternyata ditiru juga sama Syaikhan-. Jadi, mesti banyak-banyak tarik napas dan kontrol nada suara.

Ada juga kebiasaan bang Hen yang memberi pukulan di meja atau benda di dekat Syaikhan (maksudnya seperti ancaman gitu kali ya), ternyata diserap secara negatif oleh Syaikhan. Kalau dia tidak mendapatkan keinginannya, sekarang dia mukul-mukul benda-benda di sekitarnya (termasuk Uminya). Jadi bahan koreksi deh buat bang Hen. Kalau kebiasaan negatifku yang aku sadar setelah ada Syaikhan adalah menunjuk dengan tangan kiri. Wah, jadi orang tua itu, membelajarkan anak dan membelajarkan diri sendiri lho ternyata. Soalnya kan kita maunya anak itu hasilnya positif toh, kalau kitanya negatif kayanya naif banget melatih anaknya untuk positif kan? Dalam segala hal lho. Kalau yang ini, bang Hen yang mengingatkan. Aku pikir tadinya gak ada masalah. Sampai aku dengerin kajiannya ust. Armen Halem Naro rahimahullah, ternyata menunjuk dengan tangan kiri tuh termasuk perendahan terhadap orang yang diajak berbicara juga ya. Yah, pokoknya negatif deh. Jadinya, kalau yang ini jadi bahan koreksi buat aku sendiri.

Bisa diPerintah
Mungkin aku sama bang Hen mesti menemukan cara melarang dengan metode perintah yang tepat. Soalnya kalau diperintah, Syaikhan akan berusaha melaksanakan perintah itu. Misalnya disuruh ambil sesuatu,
“Khudz!! Khudzz.!! Hunaaak….Ambil….Itu di sanaaa…Khudzz!!”
Dia langsung celingukan deh, terus ngambil sesuatu, walau kadang gak tepat. Soalnya arah pandangan dia masih belum tepat dengan barang yang kita tunjuk. Atau kalau kita suruh duduk, dia langsung duduk. Kita bilang, bobo, dia langsung ngerebahin kepalanya. Perintah lainnya yang dia ngerti,
“Tutuuupp…tutup…ighlaq ighlaq! ” (tutup kulkas)
“Taruh…taruh! Dlo’ Dlo’! (meletakkan barang)
“Kasih Umi…kasih umi…” (memberikan barang)

Bisa Adzan

Hehehe…yang ini ga serius keluar kata Allahu AKbar lah ya…orang belum ada kata satupun yang secara jelas dia benar pengucapannya. Kejadiannya, waktu dia seperti biasa minta diceritain isi gambar-gambar yang ada di majalah. Waktu itu yang dipegang majalah Tashfia (yang udah ga terbit lagi). Kan’ banyak gambar mesjidnya. Terus aku ceritain deh…

“Ini masjidd…..Ini tempat orang sholat. Ini menaranya. Kalau adzan kedengeran dari sini. Allahu Akbar Allaaaahu AKbar…”

Aku lanjutin deh adzannya….Ehhhh ternyata dia menyenandungkan adzan juga lho. Abis itu kalau ditunjukkan gambar masjid, atau Abi mencontohkan adzan juga, dia langsung adzan juga.

“Enggg…..ennnnnnnggg engggg….”

Yang heran itu tadi malam. Seperti biasa, kalau kita sedang kerja di depan komputer, ada saat-saat dia nyelip ke pangkuan kita. Tadi malam di kasih liat gambar-gambar yang ada di komputer sama bang Hen. Eh..pas dikasih liat gambar Masjidil Haram yang dari luar angkasa (padahal kan gak keliatan gambar masjid lho), dan kita gak ngomong apa-apa, tau-tau dia mulai adzan. Waahh…subhanallahh….

Mudah-mudahan jadi ulama ya sayang…atau jadi yang lainnya asal bermanfaat untuk orang banyak terutama untuk membantu agama Allah. Aamiin…