Alhamdulillah, setelah satu setengah bulan menjalankan toilet training siang hari, pada bulan Maret ini, Ziyad Syaikhan bisa mulai ‘lepas panpers’ pada malam hari.

Awalnya aku dan suami berniat menjalankan (mencoba) ide frugal yang aku telah posting kemarin (soalnya kami sendiri belum pernah mencobanya). Jadilah kami di awal bulan membeli panpers Mamy Poko dua buah. Perkiraanku, ketika satunya dicuci, paling tidak ada persediaan satu lagi untuk dipakai. Kemudian aku membeli panpers uukuran XL isi 20, jaga-jaga untuk dipakai ketika berpergian.

Malam pertama, aku masih kenakan ke Ziyad panpers Momy Poko tersebut. Ide suami sih ini sebenarnya. Paginya aku buang isi panpers yang sudah kena pipis tersebut, kemudian aku cuci seperti mencuci baju lainnya. Kemudian sambil itu, aku masih menunda sekaligus berpikir bagaimana menerapkan secara enak metode itu. Karena berarti harus ada kain yang diisikan ke panpers. Dan alternatifnya yang paling enak sepertinya mengisi dengan popok. Aku pikir tidak bagus untuk kulit Ziyad kalau langsung kugunakan popok yang sudah aku simpan hampir 1 setengah tahun yang lalu. Mesti ada binatang-binatang kecil yang bersarang di situ. Jadi, aku pikir paling tidak ,aku harus menyetrikanya.

Alhasil, setelah berputar-putar berpikir dan mempertimbangkan semuanya, aku memutuskan, “Sekarang saatnya”, untuk mulai mengajarkan toilet training di malam hari (alias tidak jadi menerapkan metode isi panpers dengan kain tersebut). Pertimbangannya,

1. Tidak nyaman untuk Ziyad.

2. Sama saja pilihannya, yaitu aku harus bangun di malam hari. Baik untuk mengganti kain yang mungkin sudah dikencingi, atau bangun untuk mengantarkan Ziyad ke kamar mandi.

Hasilnya?

Alhamdulillah…Senaaannggg bangetS!! Ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Karena pada malam hari (waktu tidur), Ziyad memang jarang pipis. Aku hanya perlu bangun sekali untuk membawanya ke kamar mandi. Membawanya??

Yup, sekedar mengendong, kemudian aku taruh dipangkuanku, kemudian kakinya aku pijakkan ke lantai supaya dia merasakan dinginnya. Hebatnya, Ziyad tetap tidur walaupun aku begitukan. Kemudian aku siram-siram sedikit kaki dan penisnya dengan air. Pipislah dia…Hehehe. Setelah acara siram-siram ke bagian-bagian yang kena pipis dan terciprat, aku bawa lagi ke kamar dan masing-masing melanjutkan tidurnya. Hehehe…

Panpers Momy Poko yang satunya sampai sekarang masih belum terpakai lho. Siang hari, misalnya kami ajak Ziyad Syaikhan keluar, ternyata ia tetap tidak pipis (walaupun perginya selama 2 jam). Sampai di rumah, biasanya langsung aku cek, dan ketika bersih dari pipis, langsung aku suruh pipis di kamar mandi. Jadilah panpersnya aku simpan lagi. Sudah berapa kali seperti itu. Alhamdulillah, panpers yang kubeli kemarin yang bentuknya celana. Jadi, tidak ada masalah dengan perekat (yang mungkin akan aus kalau berkali-kali dibuka tutup).

Begitulah Ibu-Ibu. Hehehe…Setelah hiruk pikuk di dua minggu pertama toilet training, di bulan kedua ini, alhamdulillah hasilnya sudah dapat dikecap sedikit demi sedikit. Bukan berarti sudah bisa leha-leha (santai) lho. Karena aku tetap menjadwalkan satu jam sekali mengantarkan Ziyad Syaikhan pipis di siang hari. Kemudahannya sekarang adalah Ziyad bisa disuruh untuk pipis walaupun yang keluar sedikit ketika sudah di kamar mandi. Kalau dulu awal-awal, bisa-bisa 10 menit di kamar mandi, kalau Ziyad lagi tidak ingin pipis ya tidak akan keluar pipis itu.

Mudah-mudahan Allah memberi kesabaran untuk meneruskan toilet training ini. Insya Allah kalau Ziyad sudah lancar bicara, ia akan lebih mudah menyampaikan kalau “Uridu an abul ya Umi…” Hehehe…

Advertisements

Toilet Training vs Beser…

January 27, 2009

Benar tidak ya tulisannya beser? aw besser?

Ya intinya sering pipis aw yabul…hik hik

Hari ini seharusnya Ziyad masuk hari ke-9 untuk toilet training. Tapi kemarin sempat kepotong 2 hari karena ikut kajian di Pogung, jadi full day pakai panpers.

Hari Ahad, sempat toilet training, tapi cuma bertahan sampai jam 3 karena beser itu. Berhubung si Abi lagi di rumah dan si Umi lagi kecapekan karena kemarin sempat dehidrasi telat minum sampai sore (gak nyadar), jadinya pukul 15.00 dah dikenakan panpers.

Hari ini…nah ini. Gimana ya ceritanya. Soalnya perasaanku juga lagi gundah gulana sama segala macam pikiran, ditambah lagi masalah beser ini.

Kalau selama 5 hari toilet training lumayan bisa dibawa ke kamar mandi setiap 1 jam. Bahkan pernah sampai dua setengah jam baru yabul (dia pipis) dan kebobolannya paling 2-3 kali. Hari ini PARAH! (ni antara mau nangis sama ketawa deh)

Hari ini gak berhasil satu kalipun mengajak Ziyad Syaikhan pipis di kamar mandi. Parahnya lagi, pipisnya gak cuma satu jam sekali. Kadang 20 menit udah pipis lagi. Setengah jam. Pokoknya gak beraturan. Misalnya kira-kira aku mau cepetin ngajak dia ke kamar mandi, ternyata dia dah pipis duluan. Kalau di total-total, dari pukul 10.00 sampai tadi kami bertahan pukul 16.00 wib, dia dah pipis 11 kali!! WUAAAaaAA…Jadi agak sutris.

Yang terakhir yang bikin sutris (stress). Di luar kan hujan lebat, jadi bang hen gak sholat di masjid. Terus bang hen dah siap sholat, aku juga ngambil wudhu sambil mikir, insya Allah nanti setelah sholat mau ngajak Ziyad ke kamar mandi. Soalnya dah setengah jam dari pipis terakhir. Setelah wudhu, aku sempat lihat celananya. “Oh ga pipis ko.”

Baru sholat 2 roka’at, bang hen membatalkan sholatnya, soalnya Ziyad ngeribetin mau duduk di bang Hen. Bang Hen bilang, “Takut pipis.”

Ya sudah. Kita kan sholat di kamar kedua. Di sana ada tumpukan baju yang  belum aku setrika. (Rencananya sebenarnya hari ini, tapi tadi bang Hen request desain Mogen-nya diselesaikan). Dan sambil kita sholat, Ziyad main-mainin baju-baju yang ada sampai berserakan dan dia mondar-mandir.

Selesai sholat, aku langsung gendong Ziyad karena khawatir nanti baju-bajunya keburu kena pipis kalau dia sampai ngomol. Dzikir sorenya aku pikir nanti aja insya Allah. Tapi ya itu, pas aku gendong, “HAH! Udah ngompol yah?!”

Bang Hen juga langsung terkesima deh. “Yah…ngompol di mana?”

Terus aku cari-cari tempat yang ada genangannya di kamar kedua. Gak ada tuh. Terus ke dekat dia main terakhir. Wuuaaa….ada. Berarti sudah dari tadi dong pipisnya, cuma gak kelihatan rembesan di celananya.

“Terus berarti tadi pas duduk di abang dah pipis dongg?”

“Yaa, mau gimana”, aku bilang. “Kan tahunya setelah selesai sholat.”

Ni puncak stressnya deh. Setelah itu aku  langsung mandikan Ziyad. Ternyata alhamdulillah dia juga ngantuk. Jadi, habis mandi langsung aku nenenin dan bobok. Sambil nenenin, aku mikirin tumpukan kerjaan yang tiba-tiba tambah menggunung. HIKS. Aku cuma bengong dulu aja. Bang Hen ngingetin berkali-kali untuk sabar. Akhirnya Bang Hen pamit pergi ke Pogung.

Alhamdulillah sanggup juga nyuci lagi plus jemurin. (gerimis dikit gpp deh)

Kayaknya mesti memperbaiki lagi metode toilet trainingnya. Harus lebih rajin lagi dan harus lebih sabar lagi. *Fiuhh*

Sebenarnya lebih tepat kalau tidak dikatakan popok ya? Denotasinya kan kalau popok itu ya kan yang dijadikan alas untuk bayi ketika pipis dan biasanya dikenakan ketika berumur 1-2 bulan.

Untuk tahap awal, aku kasih pilihan berdasarkan yang pernah aku coba ya, diantaranya, panpers bermerk, mamy poko, EQ dry, Popoku, (satu lagi gak pernah lihat di swalayan, dulu aku beli di koperasi Taruna di daerah monjali itupun sepertinya sudah sangat lama, dan gak ingat merknya apa), terakhir adalah Sweety.

Mamy Poko
(kok ga ada webnya ya, mbo Penalette nawarin gih)

Pertimbangan untuk memilih di sini sebenarnya bervariasi. Biasanya untuk orangtua yang berkecukupan, alasan yang paling utama menjatuhkan pilihannya ke salah satu produk adalah karena tidak membuat iritasi. Dan ini jatuh pada produk Momy Poko.

Tapi harganya, Ya Allah. Untuk kita-kita (termasuk aku ya), kalau dikenakan tiap hari pada bayi dan sebulan penuh, budgetnya bisa melebihi budget makan sebulan lho. Aku pakai produk Momy Poko waktu itu Ziyad Syaikhan baru lahir dan mau periksa ke Rumah Sakit Sakina Idaman. Memang bahannya lembut, enak banget dan ada gambar petunjuk kalau panper sudah penuh atau belum (apa ya namanya, lupa aku).

EQ Dry

Ini juga enak bahannya. Pertimbangan tidak memakai ini juga karena harganya masih terlalu mahal jika dihitung secara total sebulan.

Sweety

Bahan dasar luarnya agak kurang enak (lebih ke arah plastik), dibandingkan dengan bahan Popoku. Tapi dayaserapnya lebih banyak dari Popoku. Pilihanku selama ini jatuh pada produk ini. Coba bandingkan harganya dengan panper MamyPoko. Misalnya sebulan kalau pakai Sweety menghabiskan dana Rp 100.000, maka jika menggunakan Mamypoko bisa sampai Rp 400.000 sebulan. WaaaawW!!!! Mending dialihkan buat yang lain ya dananya? Huhuhu

Selama ini alhamdulillah, Ziyad juga mengalami masalah pada kulitnya (tidak mengalami iritasi). Mungkin kalau ini, selain faktor bahan diaper, frekuensi pergantian diaper juga mempengaruhi pengaruh terhadap kulit. Walaupun pernah ke dokter anak, dikatakan bagusnya mengganti panpers tiap 4 jam sekali (waduh!), selama ini aku memakai pola penggantian panpers sendiri, yaitu

Pagi hari (sekitar pukul 09.00 wib), setelah mandi pagi, memakai panpers baru.

Sore hari (sekitar pukul 16.00 wib), setelah mandi sore, memakai panpers baru.

Nanti malam hari, sebelum tidur (kebetulan Ziyad Syaikhan tidurnya malam) atau kalau sudah tidur dari sore, ganti panpers baru sekitar pukul 00.00 wib.

Jadi, sehari menghabiskan sekitar 3-4 panpers, jika BAB mesti langsung diganti lho, dan bersihkan benar-benar daerah pantat bayi supaya tidak tertinggal bakterinya. (jangan salahkan panpersnya ya, Bu)

Popoku

Panpers ini harganya masih di bawah Sweety. Tapi daya serapnya juga jauh di bawah Sweety. Walaupun bahan dasar luarnya enak, lembut dan ada gambar penunjuk kadar wet si panpers. Kalau daya serapnya kurang, otomatis jadi mesti lebih sering ganti dung. Jadi, kalau ditotal sebulan, tetap pengeluarannya nanti lebih besar jika dibandingkan menggunakan panpers Sweety.

Mau Lebih Hemat??

Nah, yang ini rada-rada berbau frugal ya. Yang namanya hidup frugal butuh ketelatenan, niat dan pembiasaan.

Pilihan pertama,

Pakai lampin plastik. Tapi ini gak aku sarankan. Aku sendiri gak pernah pakai ini. Soalnya benar-benar kurang sehat untuk kulit bayi. Kebayang kan kalau kita sendiri pakai yang plastik terus diisi kain, terus dibiarin pipis di situ. Kecuali mungkin kalau sering diganti isi kain di dalam lampin plastiknya.

Pilihan kedua,

Pakai lampin yang mirip bentuk panpers. Kalau pakai isi lampin, kemungkinan besar tetap bocor kemana-mana. (Yang ini aku juga pernah nyoba, dan kurang berhasil, tapi kemudian dapat saran dari Uswah). Sarannya, isi lampin dikasih kain biasa. Tapi sepertinya ini juga cocoknya kalau si bayi masih belum bisa kemana-mana. Kasihan sekali melihat daerah pinggangnya penuh terisi kain.

Pilihan ketiga,

Beli panpers yang agak mahal, seperti Mamypoko sekedar 2 atau 3 buah. Panpers ini, perekatnya walaupun sudah dibuka tutup berkali-kali tetap bisa tahan. Nah, cara frugalnya adalah, isi panpers dikeluarkan. Dan kemudian untuk penadah ompolnya,tetap dikasih kain seperti cara pertama dan kedua. Kelebihannnya mungkin karena bahannya lebih enak ya. Nanti, panpersnya setelah dipakai, bisa dicuci lagi bersamaan dengan kain di dalamnya kemudian dijemur dan dipakai lagi setelah kering.

Pilihan keempat,

Gak pakai panpers. Hah? Yap. Gak pakai panpers. Insya Allah bisa kok. Tapi ini nanti dikaitkan juga dengan toilet training ya, supaya meringankan beban ibu. Ada masa yang tepat untuk melatihnya. Ada juga efeknya jika terlalu cepat. Semoga bisa ditulis di artikel yang lainnya. Aamiin

Karena kemarin banyak juga point perkembangan yang ketinggalan, dan sekarang juga dah nambah lagi perkembangan lainnya, sekalian aja deh dijadikan satu. Soalnya ada juga poin yang kemarin, pada bulan ke-16 ini berkembang kemampuannya. Apa sajakah itu??

Mulai Bisa Duduk Tegak Sendiri
Gimana ya membahasakannya. Intinya sebenarnya, sebelum-sebelumnya pun dia dah bisa duduk sendiri. Tapi yang ini posisinya duduk seperti di bangku. Wah… dia seneng banget. Kemarin-kemarin biasanya dia ngambil posisi duduk di meja pendek. Tapi kakinya tetap menjuntai-juntai. Akhirnya meja lipat pun juga jadi sasaran duduk. Alhamdulillah beberapa hari yang lalu, bang Hen sempatin beli kursi kecil merk Lion Star. Persis banget kaya punyaku yang di Jakarta. Itu dari aku kecil sampai aku seumur sekarang masih awet lho. Modelnya gak aneh-aneh kok. Polos aja. Cuma yang ini ada gambarnya di tempat dudukannya. Mungkin punyaku yang di Jakarta, dulu juga ada gambarnya ya? Aus di makan usia. Huhuhuh…

Makannya Tetap Susah

Untuk urusan makan nih, susaahhh banget. Sampai-sampai kalau bangun tidur tuh rasanya mau nangis, pusing mikirin “Hari ini kasih makan apa ya buat Syaikhan???” Soalnya kadang (sering ding), udah dibikinin susah-susah, ternyata dia juga tetap gak mau makan. Hik…alternatif sebulan ini, biasanya pakai Taro. Sadar banget sih kalau itu ada MSG-nya. Banyak malah. Tapi gimana. Soalnya walau lapar, kalau memang gak mau makan, ya dia gak makan. Tapi kalau disodorin nasi pakai taro, atau kita bilangin, “Taro…taroo..”, buka deh mulutnya.

Kemarin tapi seneng banget, dia lahap banget pas aku bikin lemper dadakan. Lagi senang, boleh ngambil daun pisang tetangga. (Kan ngeri loh kalau pakai barang-barang haram, mau kaya gimana do’a gak terkabul kalau dah mengkonsumsi barang haram, wal ‘iyya dzu billah). Sempat juga kemarin aku gorengin limpa sisa makan kemarin. Wahh…lahap sekali. Coba tiap hari ya Sayaang…

Hasil Ajaran Mulai dari yang Kanan

Alhamdulillah, pembiasaaan pemakaian baju yang dimulai kaki kanan dan lepas baju celana yang dimulai dengan kaki kiri juga sudah menampakkan hasilnya. Misalnya habis mandi terus dipakaikan baju, nanti dia nyodorin tangan kanannya dulu. Kelihatannya sepele ya? Padahal ini sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Dan aku perhatikan, sudah berapa orang ya… yang terjadi justru sebaliknya. Sewaktu memakaikan baju ke anaknya atau ke anak kecil, mulainya malah tangan kiri duluan. Eh..pas lepas baju malah yang kanan duluan. Kalau sedang lepas baju, biasanya lepas celana ding yang keliatan, nanti yang berdiri kaki kiri duluan (jadinya kita kan bisa ngelepasin bagian celana yang kiri dulu tuh). Masalah pakai sandal juga gitu lho. Karena dah dibiasain kaki kanan duluan, biasanya dia kalau kita mau pakaikan sandal, juga dah nyodorin kaki kanan duluan.

Yang masih susah dibilangin tuh, makan pakai tangan kanan. Yang ini masih lupaaa terus. Padahal baru 1 detik yang lalu dibilangin, tetap nanti tau-tau yang masukin makanan tangan kiri. Setidaknya usianya masih 16 bulan ya. Mudah-mudahan insya Allah masih bisa dibentuk. Yang susah tuh, orang dah gede, tapi susah dibilangin kalau makan dan minum pakai tangan kiri. (Padahal hukum makan dan minum dengan tangan kiri bukan sekedar makruh lho, tapi haram). Ada aja alasannya, yang kidal gimana dsb. Padahal gak ada pengecualian dalam hal ini, karena yang seperti ini bisa dilatih insya Allah.

Yang lebih menyedihkan lagi adalah, ketika kita susah payah melatih anak kita makan dan minum dengan tangan kanan, tapi ya itu, orang-orang di sekitar kita makan dan minum dengan tangan kiri (dengan santainya pula). Asli lho, masalah ini nih, masalah kebiasaan. Soalnya dulu aku refleknya juga pas minum pakai tangan kiri. Ini sebenarnya hasil budaya barat lho. Bukan dariIslam. Karena kalau di Islam, makan pakai tangan kanan, (dan walaupun tangannya kotor bekas makan), minumnya juga tetap pakai tangan kanan. Apa susahnya sih nyuci gelas sebentar, daripada melanggar perintah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.

Reflek Mandi dan Naik Tangga
Yang ini lucu. Kalau dibuka baju dan celananya (padahal maksudnya cuma mau ganti baju dan celananya yang sudah belepotan), ternyata dia langsung lari ke kamar mandi.
“Ehhh…Syaikah gak mandi kokk…Umi cuma mau gantiin baju Syaikhan…”

Bang Hen yang melihat kejadian itu langsung ketawa geli. Pernah juga aku lepas celananya aja, dia juga langsung mau lari ke kamar mandi. Kalau yang ini bukan mau mandi. Soalnya kebiasaan juga nyuci kakinya yang kotor banget kalau dah main seharian (hasil nginjek makanan etc yang berceceran di lantai).
Kalau reflek mau naik tangga tuh kalau pakai sendal. Jadi, kalau aku dah memakaikan sendal, langsung dia manjat tangga. (Padahal belum tentu juga). Tapi kalau emang pas lagi mau aku ajakin ke lantai atas, paling aku sibuk nyuruh dia menunggu,

“Intadziirr…intadzirr…” (Tunggu! Tunggu!)

Berhubung sejak minggu kemarin, mulai sering diajak jalan keluar (tanpa kereta), sekarang kalau pakai sendal dia gak selalu langsung ke tangga. Malah seneng banget kali yaa kalau mau diajakin keluar. Tapi karena lagi hujan terus, ya gak selalu bisa diajak keluar.

Mulai Susah Dilarang
Kalau kemarin-kemarin, sekali panggilan keras dia langsung nengok dan menghentikan aksi yang sedang dilakukannya, sekarang-sekarang agak susah menghentikan atau melarang ulahnya. Malah seringnya, dia melanjutkan aksinya. Bikin Abi sama Umi emosi dehhh…Mesti benar-benar ditangani terjun ke lapangan dia beraksi. Hehehe…Gak bisa kalau cuma dipanggil atau dilarang pakai omongan. Harus langsung ditarik atau kita tahan badannya. Yaa…aku sama bang Hen masih belajar tidak menampakkan emosi itu. Kadang kelepasan keluar eluhan, – dan ini ternyata ditiru juga sama Syaikhan-. Jadi, mesti banyak-banyak tarik napas dan kontrol nada suara.

Ada juga kebiasaan bang Hen yang memberi pukulan di meja atau benda di dekat Syaikhan (maksudnya seperti ancaman gitu kali ya), ternyata diserap secara negatif oleh Syaikhan. Kalau dia tidak mendapatkan keinginannya, sekarang dia mukul-mukul benda-benda di sekitarnya (termasuk Uminya). Jadi bahan koreksi deh buat bang Hen. Kalau kebiasaan negatifku yang aku sadar setelah ada Syaikhan adalah menunjuk dengan tangan kiri. Wah, jadi orang tua itu, membelajarkan anak dan membelajarkan diri sendiri lho ternyata. Soalnya kan kita maunya anak itu hasilnya positif toh, kalau kitanya negatif kayanya naif banget melatih anaknya untuk positif kan? Dalam segala hal lho. Kalau yang ini, bang Hen yang mengingatkan. Aku pikir tadinya gak ada masalah. Sampai aku dengerin kajiannya ust. Armen Halem Naro rahimahullah, ternyata menunjuk dengan tangan kiri tuh termasuk perendahan terhadap orang yang diajak berbicara juga ya. Yah, pokoknya negatif deh. Jadinya, kalau yang ini jadi bahan koreksi buat aku sendiri.

Bisa diPerintah
Mungkin aku sama bang Hen mesti menemukan cara melarang dengan metode perintah yang tepat. Soalnya kalau diperintah, Syaikhan akan berusaha melaksanakan perintah itu. Misalnya disuruh ambil sesuatu,
“Khudz!! Khudzz.!! Hunaaak….Ambil….Itu di sanaaa…Khudzz!!”
Dia langsung celingukan deh, terus ngambil sesuatu, walau kadang gak tepat. Soalnya arah pandangan dia masih belum tepat dengan barang yang kita tunjuk. Atau kalau kita suruh duduk, dia langsung duduk. Kita bilang, bobo, dia langsung ngerebahin kepalanya. Perintah lainnya yang dia ngerti,
“Tutuuupp…tutup…ighlaq ighlaq! ” (tutup kulkas)
“Taruh…taruh! Dlo’ Dlo’! (meletakkan barang)
“Kasih Umi…kasih umi…” (memberikan barang)

Bisa Adzan

Hehehe…yang ini ga serius keluar kata Allahu AKbar lah ya…orang belum ada kata satupun yang secara jelas dia benar pengucapannya. Kejadiannya, waktu dia seperti biasa minta diceritain isi gambar-gambar yang ada di majalah. Waktu itu yang dipegang majalah Tashfia (yang udah ga terbit lagi). Kan’ banyak gambar mesjidnya. Terus aku ceritain deh…

“Ini masjidd…..Ini tempat orang sholat. Ini menaranya. Kalau adzan kedengeran dari sini. Allahu Akbar Allaaaahu AKbar…”

Aku lanjutin deh adzannya….Ehhhh ternyata dia menyenandungkan adzan juga lho. Abis itu kalau ditunjukkan gambar masjid, atau Abi mencontohkan adzan juga, dia langsung adzan juga.

“Enggg…..ennnnnnnggg engggg….”

Yang heran itu tadi malam. Seperti biasa, kalau kita sedang kerja di depan komputer, ada saat-saat dia nyelip ke pangkuan kita. Tadi malam di kasih liat gambar-gambar yang ada di komputer sama bang Hen. Eh..pas dikasih liat gambar Masjidil Haram yang dari luar angkasa (padahal kan gak keliatan gambar masjid lho), dan kita gak ngomong apa-apa, tau-tau dia mulai adzan. Waahh…subhanallahh….

Mudah-mudahan jadi ulama ya sayang…atau jadi yang lainnya asal bermanfaat untuk orang banyak terutama untuk membantu agama Allah. Aamiin…

Karena kemarin banyak juga point perkembangan yang ketinggalan, dan sekarang juga dah nambah lagi perkembangan lainnya, sekalian aja deh dijadikan satu. Soalnya ada juga poin yang kemarin, pada bulan ke-16 ini berkembang kemampuannya. Apa sajakah itu??

Mulai Bisa Duduk Tegak Sendiri
Gimana ya membahasakannya. Intinya sebenarnya, sebelum-sebelumnya pun dia dah bisa duduk sendiri. Tapi yang ini posisinya duduk seperti di bangku. Wah… dia seneng banget. Kemarin-kemarin biasanya dia ngambil posisi duduk di meja pendek. Tapi kakinya tetap menjuntai-juntai. Akhirnya meja lipat pun juga jadi sasaran duduk. Alhamdulillah beberapa hari yang lalu, bang Hen sempatin beli kursi kecil merk Lion Star. Persis banget kaya punyaku yang di Jakarta. Itu dari aku kecil sampai aku seumur sekarang masih awet lho. Modelnya gak aneh-aneh kok. Polos aja. Cuma yang ini ada gambarnya di tempat dudukannya. Mungkin punyaku yang di Jakarta, dulu juga ada gambarnya ya? Aus di makan usia. Huhuhuh…

Makannya Tetap Susah

Untuk urusan makan nih, susaahhh banget. Sampai-sampai kalau bangun tidur tuh rasanya mau nangis, pusing mikirin “Hari ini kasih makan apa ya buat Syaikhan???” Soalnya kadang (sering ding), udah dibikinin susah-susah, ternyata dia juga tetap gak mau makan. Hik…alternatif sebulan ini, biasanya pakai Taro. Sadar banget sih kalau itu ada MSG-nya. Banyak malah. Tapi gimana. Soalnya walau lapar, kalau memang gak mau makan, ya dia gak makan. Tapi kalau disodorin nasi pakai taro, atau kita bilangin, “Taro…taroo..”, buka deh mulutnya.

Kemarin tapi seneng banget, dia lahap banget pas aku bikin lemper dadakan. Lagi senang, boleh ngambil daun pisang tetangga. (Kan ngeri loh kalau pakai barang-barang haram, mau kaya gimana do’a gak terkabul kalau dah mengkonsumsi barang haram, wal ‘iyya dzu billah). Sempat juga kemarin aku gorengin limpa sisa makan kemarin. Wahh…lahap sekali. Coba tiap hari ya Sayaang…

Hasil Ajaran Mulai dari yang Kanan

Alhamdulillah, pembiasaaan pemakaian baju yang dimulai kaki kanan dan lepas baju celana yang dimulai dengan kaki kiri juga sudah menampakkan hasilnya. Misalnya habis mandi terus dipakaikan baju, nanti dia nyodorin tangan kanannya dulu. Kelihatannya sepele ya? Padahal ini sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Dan aku perhatikan, sudah berapa orang ya… yang terjadi justru sebaliknya. Sewaktu memakaikan baju ke anaknya atau ke anak kecil, mulainya malah tangan kiri duluan. Eh..pas lepas baju malah yang kanan duluan. Kalau sedang lepas baju, biasanya lepas celana ding yang keliatan, nanti yang berdiri kaki kiri duluan (jadinya kita kan bisa ngelepasin bagian celana yang kiri dulu tuh). Masalah pakai sandal juga gitu lho. Karena dah dibiasain kaki kanan duluan, biasanya dia kalau kita mau pakaikan sandal, juga dah nyodorin kaki kanan duluan.

Yang masih susah dibilangin tuh, makan pakai tangan kanan. Yang ini masih lupaaa terus. Padahal baru 1 detik yang lalu dibilangin, tetap nanti tau-tau yang masukin makanan tangan kiri. Setidaknya usianya masih 16 bulan ya. Mudah-mudahan insya Allah masih bisa dibentuk. Yang susah tuh, orang dah gede, tapi susah dibilangin kalau makan dan minum pakai tangan kiri. (Padahal hukum makan dan minum dengan tangan kiri bukan sekedar makruh lho, tapi haram). Ada aja alasannya, yang kidal gimana dsb. Padahal gak ada pengecualian dalam hal ini, karena yang seperti ini bisa dilatih insya Allah.

Yang lebih menyedihkan lagi adalah, ketika kita susah payah melatih anak kita makan dan minum dengan tangan kanan, tapi ya itu, orang-orang di sekitar kita makan dan minum dengan tangan kiri (dengan santainya pula). Asli lho, masalah ini nih, masalah kebiasaan. Soalnya dulu aku refleknya juga pas minum pakai tangan kiri. Ini sebenarnya hasil budaya barat lho. Bukan dariIslam. Karena kalau di Islam, makan pakai tangan kanan, (dan walaupun tangannya kotor bekas makan), minumnya juga tetap pakai tangan kanan. Apa susahnya sih nyuci gelas sebentar, daripada melanggar perintah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.

Reflek Mandi dan Naik Tangga
Yang ini lucu. Kalau dibuka baju dan celananya (padahal maksudnya cuma mau ganti baju dan celananya yang sudah belepotan), ternyata dia langsung lari ke kamar mandi.
“Ehhh…Syaikah gak mandi kokk…Umi cuma mau gantiin baju Syaikhan…”

Bang Hen yang melihat kejadian itu langsung ketawa geli. Pernah juga aku lepas celananya aja, dia juga langsung mau lari ke kamar mandi. Kalau yang ini bukan mau mandi. Soalnya kebiasaan juga nyuci kakinya yang kotor banget kalau dah main seharian (hasil nginjek makanan etc yang berceceran di lantai).
Kalau reflek mau naik tangga tuh kalau pakai sendal. Jadi, kalau aku dah memakaikan sendal, langsung dia manjat tangga. (Padahal belum tentu juga). Tapi kalau emang pas lagi mau aku ajakin ke lantai atas, paling aku sibuk nyuruh dia menunggu,

“Intadziirr…intadzirr…” (Tunggu! Tunggu!)

Berhubung sejak minggu kemarin, mulai sering diajak jalan keluar (tanpa kereta), sekarang kalau pakai sendal dia gak selalu langsung ke tangga. Malah seneng banget kali yaa kalau mau diajakin keluar. Tapi karena lagi hujan terus, ya gak selalu bisa diajak keluar.

Mulai Susah Dilarang
Kalau kemarin-kemarin, sekali panggilan keras dia langsung nengok dan menghentikan aksi yang sedang dilakukannya, sekarang-sekarang agak susah menghentikan atau melarang ulahnya. Malah seringnya, dia melanjutkan aksinya. Bikin Abi sama Umi emosi dehhh…Mesti benar-benar ditangani terjun ke lapangan dia beraksi. Hehehe…Gak bisa kalau cuma dipanggil atau dilarang pakai omongan. Harus langsung ditarik atau kita tahan badannya. Yaa…aku sama bang Hen masih belajar tidak menampakkan emosi itu. Kadang kelepasan keluar eluhan, – dan ini ternyata ditiru juga sama Syaikhan-. Jadi, mesti banyak-banyak tarik napas dan kontrol nada suara.

Ada juga kebiasaan bang Hen yang memberi pukulan di meja atau benda di dekat Syaikhan (maksudnya seperti ancaman gitu kali ya), ternyata diserap secara negatif oleh Syaikhan. Kalau dia tidak mendapatkan keinginannya, sekarang dia mukul-mukul benda-benda di sekitarnya (termasuk Uminya). Jadi bahan koreksi deh buat bang Hen. Kalau kebiasaan negatifku yang aku sadar setelah ada Syaikhan adalah menunjuk dengan tangan kiri. Wah, jadi orang tua itu, membelajarkan anak dan membelajarkan diri sendiri lho ternyata. Soalnya kan kita maunya anak itu hasilnya positif toh, kalau kitanya negatif kayanya naif banget melatih anaknya untuk positif kan? Dalam segala hal lho. Kalau yang ini, bang Hen yang mengingatkan. Aku pikir tadinya gak ada masalah. Sampai aku dengerin kajiannya ust. Armen Halem Naro rahimahullah, ternyata menunjuk dengan tangan kiri tuh termasuk perendahan terhadap orang yang diajak berbicara juga ya. Yah, pokoknya negatif deh. Jadinya, kalau yang ini jadi bahan koreksi buat aku sendiri.

Bisa diPerintah
Mungkin aku sama bang Hen mesti menemukan cara melarang dengan metode perintah yang tepat. Soalnya kalau diperintah, Syaikhan akan berusaha melaksanakan perintah itu. Misalnya disuruh ambil sesuatu,
“Khudz!! Khudzz.!! Hunaaak….Ambil….Itu di sanaaa…Khudzz!!”
Dia langsung celingukan deh, terus ngambil sesuatu, walau kadang gak tepat. Soalnya arah pandangan dia masih belum tepat dengan barang yang kita tunjuk. Atau kalau kita suruh duduk, dia langsung duduk. Kita bilang, bobo, dia langsung ngerebahin kepalanya. Perintah lainnya yang dia ngerti,
“Tutuuupp…tutup…ighlaq ighlaq! ” (tutup kulkas)
“Taruh…taruh! Dlo’ Dlo’! (meletakkan barang)
“Kasih Umi…kasih umi…” (memberikan barang)

Bisa Adzan

Hehehe…yang ini ga serius keluar kata Allahu AKbar lah ya…orang belum ada kata satupun yang secara jelas dia benar pengucapannya. Kejadiannya, waktu dia seperti biasa minta diceritain isi gambar-gambar yang ada di majalah. Waktu itu yang dipegang majalah Tashfia (yang udah ga terbit lagi). Kan’ banyak gambar mesjidnya. Terus aku ceritain deh…

“Ini masjidd…..Ini tempat orang sholat. Ini menaranya. Kalau adzan kedengeran dari sini. Allahu Akbar Allaaaahu AKbar…”

Aku lanjutin deh adzannya….Ehhhh ternyata dia menyenandungkan adzan juga lho. Abis itu kalau ditunjukkan gambar masjid, atau Abi mencontohkan adzan juga, dia langsung adzan juga.

“Enggg…..ennnnnnnggg engggg….”

Yang heran itu tadi malam. Seperti biasa, kalau kita sedang kerja di depan komputer, ada saat-saat dia nyelip ke pangkuan kita. Tadi malam di kasih liat gambar-gambar yang ada di komputer sama bang Hen. Eh..pas dikasih liat gambar Masjidil Haram yang dari luar angkasa (padahal kan gak keliatan gambar masjid lho), dan kita gak ngomong apa-apa, tau-tau dia mulai adzan. Waahh…subhanallahh….

Mudah-mudahan jadi ulama ya sayang…atau jadi yang lainnya asal bermanfaat untuk orang banyak terutama untuk membantu agama Allah. Aamiin…

Walau cuma sebulan, banyaakk banget perkembangan Ziyadu Syaikhaini ini.

Suka cuap-cuap. Memang sampai umur sekarang, Ziyad belum keluar satu katapun secara jelas. Tapi, masya Allah… gaya ngomongnya itu kesannya sudah ahli ngomong. Pertama mulainya, kalau ngga salah dia suka pegang hp kami yang sudah rusak. Terus gayanya seperti Abinya kalau terima telepon. Udah deh, ternyata abis itu dia cuap-cuap ga jelas. Tapi kesannya ngomong beneran.

“Peca peca peca peca peca peca…”

Terus, mulai suka kaya orang baca, abis ketemuan sama am Jepi (adikku tercinta), tiba-tiba dia pegang kertas petunjuk pemakaian remote mobil (dapat hadiah dari am Jepi mobil remote control), terus keliling rumah sambil pegang kertas, mulutnya cuap-cuap. Ceritanya baca gitu…

“Peca peca…. peca peca…” Ada sampai 10 menitan kaya gitu. Sempat direkam Abinya di hp selama 5 menit. Ga berhenti-berhenti lho kaya gitu. Sekarang, kalau diajak ngomong jadinya dia suka njawab-njawab gitu. Tapi gak jelas ngomong apa.

Plagiat sejati. Wah… sesuatu yang dilihat cuma sekali, tapi dia sudah nangkep dan bisa niru walapun mungkin gak saat itu. Contohnya banyak. Pernah sekali, waktu mandiin dia, aku nyikati lantai kamar mandi yang kotor. Kemarin malam, pas bang Hen bantuin nyebokin dia, suasana ribet banget di kamar mandi. Ternyata Ziyad lagi berusaha pegang sikat kamar mandi, dan udah sempet dipraktekkin gerakan nyikat-nyikat.

Ada juga sapu tangan yang udah aku setrika licin, tapi belum sempat dimasukkan ke lemari. Dia ambil, terus mulai elap-elap CPU yang teronggok di kamar. Haduww… mesti dicuci lagi deh. Itu juga niru gerakan aku kalau lagi ngelap-ngelap meja makan dll.

Kalau niru gerakan abi sama umi main komputer, wahh… jangan ditanya. Dah expert banget. Udah 2 mouse juga rusak dimainin sama Ziyad Syaikhan ini.

Mulai suka lihat gambar. Jadinya heboh kalau lihat gambar-gambar. Ada gambar di kemasan susu ultra yang gede. Langsung teriak-teriak heboh, “HEEHH…HEEEHH…!!!” Ini maksudnya dia ngomong sesuatu. Panpersnya yang banyak gambarnya, dulu-dulu mah gak sadar dan gak peduli. Sekarang suka pegang-pegang terus minta diceritain isi gambarnya sama kami. Buku Marketing Revolution yang lagi bang Hen pinjam dari peminjaman buku kan banyak gambarnya tuh. Jadinya berebutan juga deh kalau Abinya sedang mau baca.

Jarinya bisa menunjuk. Aku tahu awalnya. Bang Hen kalau sedang baca Al-Qur’an terus Ziyad mau ikutan, biasanya terus ditunjukkin ayatnya pake jari . Terus ditambah lagi sekarang dia suka lihat-lihat gambar. Otomatis sambil nunjuk-nunjuk gambarnya kita ceritain isinya. “Ini cumi-cumi. Ini kapal selam. Ini bintang.” Nanti dia ikutan juga deh nunjuk-nunjuk.

Suka main dan bisa main sendiri. Insting bermainnya dah sangat berkembang. Sebenarnya aku sadarnya waktu ikutan ta’lim di Mushola Teknik UGM. Dia mulai niru apa yang dilakukan anak lain. Kalau sekarang denger suara anak kecil lain yang ada di luar rumah, dia langsung lari ke depan, nempel di kaca depan. Mainan-mainannya juga udah bisa dimainin sendiri. Maksudnya seru sendiri gitu. Kalau dulu kan rada gak peduli.

Ada kebiasaan dia yang ternyata bener itu kebiasaan dia. Kalau nenen di tempat tidur, dia sukanya sambil pegang mainan. Nanti badan Umi dijadiin sandaran/landasan buat motor atau mobil-mobilan yang dipegangnya. Kadang niat banget dia mau ngelakuin kebiasaannya ini. Pernah aku ajakin nenen. Kok cuma sebentar dia udah keluar kamar. Ya udah aku keluar juga. Ternyata di luar dia lagi pegang mainan, terus ngeliat aku keluar dia langsung nangis. Wah… ternyata keluar cuma mau ambil mainan terus balik lagi ke kamar. Tadi malam soalnya kaya gini lagi. Cuma akunya ga keluar kamar dan ternyata dia balik lagi ke kamar setelah ngambil mainan helikopternya.

Suka nyium Abi dan Umi. Senang deh kalau habis dicium. Sering kalau ngeliat Abi lagi tidur, nanti Syaikhan datang sebentar buat nyium. Abis itu keluar lagi. Kalau habis dimarahin (soalnya lagi suka mukul-mukul), nanti dia mbujukin kita dengan cara nyium kita. Hehh… jadi senyum-senyum sendiri kan kalau udah gitu.

Suka manjat-manjat. Dah jatoh berapa kali ya… Suka manjat apa aja. Meja, kursi, tangga. Biasanya aku kasih kesempatan sekali ikut naik ke atas kalau aku lagi jemurin baju atau ngambil baju yang kering. Kalau aku udah pakai jilbab, terus aku bilang, “Ayo… Syaikhan… ta’al (kemari), mau ikut umi ke atas ga?” Dia lari deh ke tangga.