Pindah ke cizkah.com

November 24, 2009

Ternyata masih ada yang komentar di blog yang ini ya. Nah nah…sekarang cuma mo ngasih tau lagi, kalo blog yg kemarin pun sudah pindah ke cizkah.com.

Advertisements

Untuk Apa Hidup

January 15, 2009

Hidup itu untuk ibadah kepada Allah lho…

Kalau melihat kehidupan di sekitar, ataupun di internet…sepertinya pada lupa. Aku sendiri juga sering jadi keterusan kalo dah connect internet (makanya lebih milih ga terlalu banyak berhubungan langsung dengan internet).

Jadi, kalo hidup itu untuk ibadah, maka jangan sampai ada yang sia-sia. Hatta waktu tidur kita. Karena semuanya kan dicatat sama malaikat, dan akan dipertanggungjawabkan dan dihitung.

Ini sebenarnya abis merenung ketika melihat bagaimana kehidupan teman2 SMA saat ini. Banyak yang berubah, banyak pula yang tidak berubah….

Ya uda ah…balik kerja lagi.

Kenapa Jarang Posting?

January 2, 2009

Ya karena qudroh (kemampuan) tidak sesuai dengan irodah (kehendak). Begitulah manusia beserta kelemahannya. Keduanya adalah makhluk Allah. Namun bukan berarti manusia seperti robot, yang tidak dapat menentukan apa yang hendak dilakukannya, dan juga bukan berarti, manusia itu bebas berkehendak dengan alasan memang itulah yang ditakdirkan.

Balik lagi…kenapa jarang posting.
Soalnya…
1. Njalanin kewajiban sebagai istri dulu dung. Mo bela-belain bisa ngisi blog dsb, tapi ga bisa masuk surga karena hak suami terlalaikan? Ga mau dung aku. Jadi…aku berusaha menjalankan kewajiban utama aku dan salah satu bentuk ibadah aku yg paling utama yang bisa aku kerjakan agar bisa dimasukkan ke surga. Aaamiiin. (haditsnya tunggu tulisan di muslimah.or.id aja ya. Insya Allah

2. Njalanin tanggung jawab sebagai ro’isah (pimpinan) di rumah. Yaitu buat anakku dan rumah itu sendiri yang menjadi amanah apalagi ketika suami tidak di rumah. Aku harus berusaha membimbing dan menjaga sang buah hati. Ujung-ujungnya…ya buat bekal akhirat juga dung. ^_^

Intermezo di bagian ini:
Manusia itu emang kalo ga sadar akan tujuan hidup ini, semangat mengerjakan apa-apa itu beda lho. Dan akan sangat berarti bila telah tahu tujuan hidup (yaitu beribadah kepada Allah), semuanya jadi terasa ga sia-sia insya Allah. (makanya postingan ini tuh di luar kontek ya. Soalnya itu juga termasuk takdir yang telah ditetapkan buat kaum wanita hehehe).

Contoh simple adalah, ketika aku (yang suka bersih-bersih), mulai rajin nyapu pekarangan, biasanya semangatnya sekedar nanti halaman jadi bersih. Tapi ketika tahu bahwa itu adalah termasuk bentuk ibadah yang dicintai dan disarankan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam (karena untuk membedakan kita (kaum muslimin) dengan Yahudi), Wah…semangatnya buedaaa banget. Rasanya jadi tambah bahagia ketika menyapu dan melihat pekarangan bersih. Ya Allah, semoga Engkau memberiku pahala atas pekerjaan menyapuku itu. Sungguh Islam itu indah. *mo nangis*

3. Sibuk sama proyek ndesain. Alhamdulillah bulan ini harus nyelesain dua desain dari mockup sampai XHTML. Terus juga masih ada tanggungan ngasih 2 desain kaos buat kaosmogen.com (lho blom launch ya webnya. Hehehe). Kemarin sibuk bikin buat web sendiri sama bikin buat penalette yang different dari desain-desain seblumnya. Alasan di sini juga jadi alasan kenapa web sendiri juga ga bener-bener baik isi dan tampilannya. heheheh

4. Harus selalu ada waktu untuk nulis di muslimah.or.id. Mudah-mudahan jadi bekal yang tak terputus sampai hari akhir nanti. Aamiin. Yang ini lebih berat daripada yg lain, karena mesti muthola’ah juga. Ya Allah mudahkanlah dan berkahilah waktuku dan waktu para penulis muslimah.or.id yang lainnya. Aaamin.

5. Asyik di dapur! Ini bawaan dan naluri sebagai wanita ya. :P Kemarin alhamdulillah, bang hen akhirnya ndownloadin blognya pak budi. Jadi, kayanya maraji’ buat ngedapur adalah keluarganugraha dan keseharian plus pak budi ini. Yang lain masih kurang cocok eee.

Sisanya adalah istirahat dan bercengkerama bersama suami dan buah hati.
Sebenarnya ada target-target lain yang aku dan bang hen rencanakan. Nulis buku sama kemarin dapet satu ide yg aku semangaaaaaaat banget buat ngerjainnya (rahasia dulu ya, namanya juga ide). Tapi ya itu. Pelan-pelan deh. Pingin juga nulis tutorial, tapi insya Allah setelah selesai tanggung jawab amanah yang lainnya. :)

Indahnya ‘Idul Adha

December 9, 2008

Alhamdulillah…seneeeng bisa masih berhari raya ‘Idul Adha tahun ini. (walaupun sempet nangis dikit, soalnya ternyata masih gak bisa pulang ke Jakarta) :P.

Di kontrakan baru ini, terkaget-kaget sewaktu sekitar sore hari, pintu rumah diketuk,

“Assalamu’alaikum!!”

“Wa’alaikumussalaam…”

“Ini akh, dari pondok”, kata sang tamu.

“Hah, banyak sekali ini.”

“Pada segitu dapat jatah semua”.

Abang masuk rumah sambil ngangkut 4 plastik yang isinya daging kurban. Alhamdulillaahh…Terus abang sibuk cerita kalau tadi lihat di masjid, padahal dari pondok pesantren Jamilurrahman sudah menjatahkan untuk kampung ini, kampung itu dll. Berarti kan banyak buanget dagingnya.

Yang takjubnya, gak lama sesudah itu pintu diketuk lagi. Ternyata dapat 1 plastik lagi jatah dari masjid yang cuma berjarak 1 rumah dari rumah kontrakan kami. Langsung sibuk pilah-pilah deh. Sambil potong sana, potong sini, kami sibuk membahas lagi berbagai komentar di muslimah. or.id, di tulisanku tentang vegetarian. Bang Hen masih terheran-heran dengan fanatiknya para vegetarian (padahal mereka Islam). Kita tahu, karena banyak komentar yang tidak ter-approve karena tidak bermanfaat untuk lainnya dan hanya debat kusir saja nantinya. Kalau mereka mau cari kebenaran, insya ALlah muslimah.or.id dengan senang hati menjawab berbagai pertanyaan. Tapi sayangnya mereka sekedar ingin membela hawa nafsu saja.

“Mereka mendebatmu tentang kebenaran, sesudah nyata kebenaran tersebut.”(Qs. al-Anfal[8]:6)

Aku sempat mengucap, “Bagaimana ini, para vegetarian. Orang-orang mah pada senang dapat daging…”

Padahal disinilah keindahan syari’at ‘Idul Adha ini. Dan berbagai komentar yang masuk dimuslimah dari para vegie itu, kalau dah ditanya gimana mereka dengan syari’at Islam yang jelas-jelas nyata, yaitu ‘Idul Adha dan Aqiqoh. Mereka gak akan bisa jawab. Kalaupun jawab, jawabannya itu cuma dicari-cari aja, bahkan menujukkan bagaimana sebenarnya pemahaman mereka terhadap Islam. Mereka katakan, itu kita gak sejaman sama Nabi Muhammad (shallallahu’alaihi wa sallam), jadi gak tahu gimana praktek kurban. Iman kita gak sebesar nabi Ibrahim, dan alasan-alasan aneh lainnya.

Alasan mereka, aku simpulkan berkisar pada:

1. Rasa kasihan dan mereka mengaku sangat menyayangi makhluk.

Jawabannya : Padahal Allah-lah yang menciptakan makhluk-makhluk tersebut (para hewan). Allah pula yang memerintahkan untuk makan para hewan tersebut. Dan Allah pula yang memerintahkan caranya dengan disembelih dan dengan menyebut nama ALlah pula!! Allah pula yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Jadi alasan mereka ini sangat tidak rasional.

2. Hewan-hewan itu disiksa untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Jawaban: Apapun kesalahan atau cara yang salah dari manusia, bukan berarti kemudian mencari-cari penyelesaian dengan menerjang syari’at. Berusaha membenahi hubungan mereka dengan makhluk Allah, tapi hubungan mereka dengan Allah malah terselewengkan.

upadated

3. Baru nyadar lagi alasan ketiga.

Karena kesehatan. Padahal yg seperti ini tidak bisa digeneralisir. Dikatakan lebih panjang umur dsb.

Dalam Islam, dibolehkan mencari ‘sebab’ yang memang sesuai syari’at.  Misalnya, dalam salah satu hadits, dikatakan silaturahmi dapat memperpanjang umur. Umur disini juga bermacam-macam penjelasan ulama, salah satunya yaitu benar-benar umurnya akan dipanjangkan (agak panjang penjelasannya dan bukan di sini tempatnya).

Atau juga misal makan adalah sebab untuk menghilangkan lapar.

Tapi untuk asalan ‘sehat’ untuk kemudian menjadi meng’anti’kan diri terhadap kenikmatan yang Allah berikan, maka ini yang tidak diperbolehkan.

4. Pilihan??

Salah jika dikatakan menjadi vegetarian itu adalah pilihan. Kalau seperti itu, nanti para pria yang memilih berubah jadi perempuan dan para perempuan yang memilih menjadi laki-laki, juga akan mengatakan hal yang sama. Ini pilihan saya.

Pilihan itu adalah ketika kita tidak menyukai makanan tertentu karena jijik atau tak terbiasa, sebagaimana Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak makan binatang (semacam iguana) karena memang tidak terbiasa.

Tapi Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tetap makan kambing, unta bahkan sangat menyukai memakan lengan kambing.

5. Valid atau tidaknya kehalalan daging yang dimakan

Sesungguhnya setiap hamba tidak dibebankan menjalankan syari’at di luar kemampuannya. Dan usaha-usaha untuk makan makanan yang halal bukan berarti malah mengerjakan sesuatu yang menyelisihi syari’at kan??

Jadinya aneh, mau bertakwa tapi justru memakai cara lain yang merupakan maksiat terhadap syari’at Allah.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam adalah tauladan terbaik. (Maaf ya untuk hadits-haditsnya belum bisa dicantumkan karena sedang letih untuk membuka buku-buku – lagi kurang enak badan). Intinya, misalnya kita tinggal di negara muslim yang memang telah jelas hukum penyembelihan, maka insya Allah kita bisa tenang makan daging-daging yang dijual di pasaran. Kalau tinggal di luar negeri (sebenarnya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah berlepas diri kalau kita tinggal di negeri kafir), ya inipun bisa diusahakan untuk tetap makan makanan yang halal, tapi tetap dengan tidak menjadi vegetarian. Mudah-mudahan kerepotan kita untuk mencari makanan yang halal (di LN) menjadi catatan amal kebaikan. :)

Mudah-mudahan Allah memberi hidayah kepada kita semua untuk dapat mengikuti syari’at seutuhnya dan bukan mengambil sebagian ayat (untuk hawa nafsu) dan meninggalkan ayat-ayat lainnya. Amiin

Indahnya 'Idul Adha

December 9, 2008

Alhamdulillah…seneeeng bisa masih berhari raya ‘Idul Adha tahun ini. (walaupun sempet nangis dikit, soalnya ternyata masih gak bisa pulang ke Jakarta) :P.

Di kontrakan baru ini, terkaget-kaget sewaktu sekitar sore hari, pintu rumah diketuk,

“Assalamu’alaikum!!”

“Wa’alaikumussalaam…”

“Ini akh, dari pondok”, kata sang tamu.

“Hah, banyak sekali ini.”

“Pada segitu dapat jatah semua”.

Abang masuk rumah sambil ngangkut 4 plastik yang isinya daging kurban. Alhamdulillaahh…Terus abang sibuk cerita kalau tadi lihat di masjid, padahal dari pondok pesantren Jamilurrahman sudah menjatahkan untuk kampung ini, kampung itu dll. Berarti kan banyak buanget dagingnya.

Yang takjubnya, gak lama sesudah itu pintu diketuk lagi. Ternyata dapat 1 plastik lagi jatah dari masjid yang cuma berjarak 1 rumah dari rumah kontrakan kami. Langsung sibuk pilah-pilah deh. Sambil potong sana, potong sini, kami sibuk membahas lagi berbagai komentar di muslimah. or.id, di tulisanku tentang vegetarian. Bang Hen masih terheran-heran dengan fanatiknya para vegetarian (padahal mereka Islam). Kita tahu, karena banyak komentar yang tidak ter-approve karena tidak bermanfaat untuk lainnya dan hanya debat kusir saja nantinya. Kalau mereka mau cari kebenaran, insya ALlah muslimah.or.id dengan senang hati menjawab berbagai pertanyaan. Tapi sayangnya mereka sekedar ingin membela hawa nafsu saja.

“Mereka mendebatmu tentang kebenaran, sesudah nyata kebenaran tersebut.”(Qs. al-Anfal[8]:6)

Aku sempat mengucap, “Bagaimana ini, para vegetarian. Orang-orang mah pada senang dapat daging…”

Padahal disinilah keindahan syari’at ‘Idul Adha ini. Dan berbagai komentar yang masuk dimuslimah dari para vegie itu, kalau dah ditanya gimana mereka dengan syari’at Islam yang jelas-jelas nyata, yaitu ‘Idul Adha dan Aqiqoh. Mereka gak akan bisa jawab. Kalaupun jawab, jawabannya itu cuma dicari-cari aja, bahkan menujukkan bagaimana sebenarnya pemahaman mereka terhadap Islam. Mereka katakan, itu kita gak sejaman sama Nabi Muhammad (shallallahu’alaihi wa sallam), jadi gak tahu gimana praktek kurban. Iman kita gak sebesar nabi Ibrahim, dan alasan-alasan aneh lainnya.

Alasan mereka, aku simpulkan berkisar pada:

1. Rasa kasihan dan mereka mengaku sangat menyayangi makhluk.

Jawabannya : Padahal Allah-lah yang menciptakan makhluk-makhluk tersebut (para hewan). Allah pula yang memerintahkan untuk makan para hewan tersebut. Dan Allah pula yang memerintahkan caranya dengan disembelih dan dengan menyebut nama ALlah pula!! Allah pula yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Jadi alasan mereka ini sangat tidak rasional.

2. Hewan-hewan itu disiksa untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Jawaban: Apapun kesalahan atau cara yang salah dari manusia, bukan berarti kemudian mencari-cari penyelesaian dengan menerjang syari’at. Berusaha membenahi hubungan mereka dengan makhluk Allah, tapi hubungan mereka dengan Allah malah terselewengkan.

upadated

3. Baru nyadar lagi alasan ketiga.

Karena kesehatan. Padahal yg seperti ini tidak bisa digeneralisir. Dikatakan lebih panjang umur dsb.

Dalam Islam, dibolehkan mencari ‘sebab’ yang memang sesuai syari’at.  Misalnya, dalam salah satu hadits, dikatakan silaturahmi dapat memperpanjang umur. Umur disini juga bermacam-macam penjelasan ulama, salah satunya yaitu benar-benar umurnya akan dipanjangkan (agak panjang penjelasannya dan bukan di sini tempatnya).

Atau juga misal makan adalah sebab untuk menghilangkan lapar.

Tapi untuk asalan ‘sehat’ untuk kemudian menjadi meng’anti’kan diri terhadap kenikmatan yang Allah berikan, maka ini yang tidak diperbolehkan.

4. Pilihan??

Salah jika dikatakan menjadi vegetarian itu adalah pilihan. Kalau seperti itu, nanti para pria yang memilih berubah jadi perempuan dan para perempuan yang memilih menjadi laki-laki, juga akan mengatakan hal yang sama. Ini pilihan saya.

Pilihan itu adalah ketika kita tidak menyukai makanan tertentu karena jijik atau tak terbiasa, sebagaimana Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak makan binatang (semacam iguana) karena memang tidak terbiasa.

Tapi Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tetap makan kambing, unta bahkan sangat menyukai memakan lengan kambing.

5. Valid atau tidaknya kehalalan daging yang dimakan

Sesungguhnya setiap hamba tidak dibebankan menjalankan syari’at di luar kemampuannya. Dan usaha-usaha untuk makan makanan yang halal bukan berarti malah mengerjakan sesuatu yang menyelisihi syari’at kan??

Jadinya aneh, mau bertakwa tapi justru memakai cara lain yang merupakan maksiat terhadap syari’at Allah.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam adalah tauladan terbaik. (Maaf ya untuk hadits-haditsnya belum bisa dicantumkan karena sedang letih untuk membuka buku-buku – lagi kurang enak badan). Intinya, misalnya kita tinggal di negara muslim yang memang telah jelas hukum penyembelihan, maka insya Allah kita bisa tenang makan daging-daging yang dijual di pasaran. Kalau tinggal di luar negeri (sebenarnya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah berlepas diri kalau kita tinggal di negeri kafir), ya inipun bisa diusahakan untuk tetap makan makanan yang halal, tapi tetap dengan tidak menjadi vegetarian. Mudah-mudahan kerepotan kita untuk mencari makanan yang halal (di LN) menjadi catatan amal kebaikan. :)

Mudah-mudahan Allah memberi hidayah kepada kita semua untuk dapat mengikuti syari’at seutuhnya dan bukan mengambil sebagian ayat (untuk hawa nafsu) dan meninggalkan ayat-ayat lainnya. Amiin

Artikel Wudhu, Uploaded

December 8, 2008

Alhamdulillah, artikel wudhu-nya dah published di muslimah.or.id sejak tanggal 1 Desember kemarin. Maaf ya telat kasih tau (gak sesuai janjinya ni).

Silakan dibaca selengkapnya di muslimah.or.id. Siapa tahu ada yang perlu dibenahi dari wudhu kita (kaya aku dulu). :)

Btw, masih pikir2 lagi deh mau pindah-pindah ke kankoyo.wordpress.com nya. Kayanya jadi agak ribet. Masih timbang-timbang lagi.

Aku, dan terutama suami, suka memperhatikan bahasa. Kejadian dengan anak kami, Ziyad Syaikhan ternyata juga bisa jadi pelajaran bahasa buat kami. Biasanya kalau Syaikhan memukul aku atau bang Hen, aku langsung berkata,

“EEHhhHH!….kok Umi dipukul…jangan dipukul!!” Bolehnya disayangg!!”
Sadar tidak, kesalahan bahasa yang aku gunakan?
Kalau bang Hen sadar. Hehehe..
Tidak ada dalam kalimat bahasa Indonesia yang tepat, penggunaan kata pasif dalam kalimat perintah. Seharusnya yang benar, “Jangan pukul”.  Karena ini merupakan kalimat perintah kepada orang kedua.
Kalau perintahnya, “Syaikhan!! Jangan dipukul !”
Siapa yang jadi pelakunya? Seharusnya Syaikhan kan? Tapi kalimatnya jadi rancu karena ada kalimat pasif yang membutuhkan pelaku lain, yaitu Umi yang jangan dipukul. Padahal, dalam perintah tersebut, si Umi bukan jadi pelaku (subyek), tapi jadi objek (yang dipukul).
Wah…benar juga ya bang! Kita ketawa-tawa waktu ngebahas ini. Baru kepikiran deh. Sekarang kalau melarang Syaikhan, jadinya suka meralat kalimat deh.
“Syaikhan…jangan mukulll” –hehehe…well..walaupun gak baku, setidaknya secara struktur bahasa dah bener. Namanya juga bahasa percakapan sehari-hari.