Kenapa Jarang Posting?

January 2, 2009

Ya karena qudroh (kemampuan) tidak sesuai dengan irodah (kehendak). Begitulah manusia beserta kelemahannya. Keduanya adalah makhluk Allah. Namun bukan berarti manusia seperti robot, yang tidak dapat menentukan apa yang hendak dilakukannya, dan juga bukan berarti, manusia itu bebas berkehendak dengan alasan memang itulah yang ditakdirkan.

Balik lagi…kenapa jarang posting.
Soalnya…
1. Njalanin kewajiban sebagai istri dulu dung. Mo bela-belain bisa ngisi blog dsb, tapi ga bisa masuk surga karena hak suami terlalaikan? Ga mau dung aku. Jadi…aku berusaha menjalankan kewajiban utama aku dan salah satu bentuk ibadah aku yg paling utama yang bisa aku kerjakan agar bisa dimasukkan ke surga. Aaamiiin. (haditsnya tunggu tulisan di muslimah.or.id aja ya. Insya Allah

2. Njalanin tanggung jawab sebagai ro’isah (pimpinan) di rumah. Yaitu buat anakku dan rumah itu sendiri yang menjadi amanah apalagi ketika suami tidak di rumah. Aku harus berusaha membimbing dan menjaga sang buah hati. Ujung-ujungnya…ya buat bekal akhirat juga dung. ^_^

Intermezo di bagian ini:
Manusia itu emang kalo ga sadar akan tujuan hidup ini, semangat mengerjakan apa-apa itu beda lho. Dan akan sangat berarti bila telah tahu tujuan hidup (yaitu beribadah kepada Allah), semuanya jadi terasa ga sia-sia insya Allah. (makanya postingan ini tuh di luar kontek ya. Soalnya itu juga termasuk takdir yang telah ditetapkan buat kaum wanita hehehe).

Contoh simple adalah, ketika aku (yang suka bersih-bersih), mulai rajin nyapu pekarangan, biasanya semangatnya sekedar nanti halaman jadi bersih. Tapi ketika tahu bahwa itu adalah termasuk bentuk ibadah yang dicintai dan disarankan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam (karena untuk membedakan kita (kaum muslimin) dengan Yahudi), Wah…semangatnya buedaaa banget. Rasanya jadi tambah bahagia ketika menyapu dan melihat pekarangan bersih. Ya Allah, semoga Engkau memberiku pahala atas pekerjaan menyapuku itu. Sungguh Islam itu indah. *mo nangis*

3. Sibuk sama proyek ndesain. Alhamdulillah bulan ini harus nyelesain dua desain dari mockup sampai XHTML. Terus juga masih ada tanggungan ngasih 2 desain kaos buat kaosmogen.com (lho blom launch ya webnya. Hehehe). Kemarin sibuk bikin buat web sendiri sama bikin buat penalette yang different dari desain-desain seblumnya. Alasan di sini juga jadi alasan kenapa web sendiri juga ga bener-bener baik isi dan tampilannya. heheheh

4. Harus selalu ada waktu untuk nulis di muslimah.or.id. Mudah-mudahan jadi bekal yang tak terputus sampai hari akhir nanti. Aamiin. Yang ini lebih berat daripada yg lain, karena mesti muthola’ah juga. Ya Allah mudahkanlah dan berkahilah waktuku dan waktu para penulis muslimah.or.id yang lainnya. Aaamin.

5. Asyik di dapur! Ini bawaan dan naluri sebagai wanita ya. :P Kemarin alhamdulillah, bang hen akhirnya ndownloadin blognya pak budi. Jadi, kayanya maraji’ buat ngedapur adalah keluarganugraha dan keseharian plus pak budi ini. Yang lain masih kurang cocok eee.

Sisanya adalah istirahat dan bercengkerama bersama suami dan buah hati.
Sebenarnya ada target-target lain yang aku dan bang hen rencanakan. Nulis buku sama kemarin dapet satu ide yg aku semangaaaaaaat banget buat ngerjainnya (rahasia dulu ya, namanya juga ide). Tapi ya itu. Pelan-pelan deh. Pingin juga nulis tutorial, tapi insya Allah setelah selesai tanggung jawab amanah yang lainnya. :)

Indahnya ‘Idul Adha

December 9, 2008

Alhamdulillah…seneeeng bisa masih berhari raya ‘Idul Adha tahun ini. (walaupun sempet nangis dikit, soalnya ternyata masih gak bisa pulang ke Jakarta) :P.

Di kontrakan baru ini, terkaget-kaget sewaktu sekitar sore hari, pintu rumah diketuk,

“Assalamu’alaikum!!”

“Wa’alaikumussalaam…”

“Ini akh, dari pondok”, kata sang tamu.

“Hah, banyak sekali ini.”

“Pada segitu dapat jatah semua”.

Abang masuk rumah sambil ngangkut 4 plastik yang isinya daging kurban. Alhamdulillaahh…Terus abang sibuk cerita kalau tadi lihat di masjid, padahal dari pondok pesantren Jamilurrahman sudah menjatahkan untuk kampung ini, kampung itu dll. Berarti kan banyak buanget dagingnya.

Yang takjubnya, gak lama sesudah itu pintu diketuk lagi. Ternyata dapat 1 plastik lagi jatah dari masjid yang cuma berjarak 1 rumah dari rumah kontrakan kami. Langsung sibuk pilah-pilah deh. Sambil potong sana, potong sini, kami sibuk membahas lagi berbagai komentar di muslimah. or.id, di tulisanku tentang vegetarian. Bang Hen masih terheran-heran dengan fanatiknya para vegetarian (padahal mereka Islam). Kita tahu, karena banyak komentar yang tidak ter-approve karena tidak bermanfaat untuk lainnya dan hanya debat kusir saja nantinya. Kalau mereka mau cari kebenaran, insya ALlah muslimah.or.id dengan senang hati menjawab berbagai pertanyaan. Tapi sayangnya mereka sekedar ingin membela hawa nafsu saja.

“Mereka mendebatmu tentang kebenaran, sesudah nyata kebenaran tersebut.”(Qs. al-Anfal[8]:6)

Aku sempat mengucap, “Bagaimana ini, para vegetarian. Orang-orang mah pada senang dapat daging…”

Padahal disinilah keindahan syari’at ‘Idul Adha ini. Dan berbagai komentar yang masuk dimuslimah dari para vegie itu, kalau dah ditanya gimana mereka dengan syari’at Islam yang jelas-jelas nyata, yaitu ‘Idul Adha dan Aqiqoh. Mereka gak akan bisa jawab. Kalaupun jawab, jawabannya itu cuma dicari-cari aja, bahkan menujukkan bagaimana sebenarnya pemahaman mereka terhadap Islam. Mereka katakan, itu kita gak sejaman sama Nabi Muhammad (shallallahu’alaihi wa sallam), jadi gak tahu gimana praktek kurban. Iman kita gak sebesar nabi Ibrahim, dan alasan-alasan aneh lainnya.

Alasan mereka, aku simpulkan berkisar pada:

1. Rasa kasihan dan mereka mengaku sangat menyayangi makhluk.

Jawabannya : Padahal Allah-lah yang menciptakan makhluk-makhluk tersebut (para hewan). Allah pula yang memerintahkan untuk makan para hewan tersebut. Dan Allah pula yang memerintahkan caranya dengan disembelih dan dengan menyebut nama ALlah pula!! Allah pula yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Jadi alasan mereka ini sangat tidak rasional.

2. Hewan-hewan itu disiksa untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Jawaban: Apapun kesalahan atau cara yang salah dari manusia, bukan berarti kemudian mencari-cari penyelesaian dengan menerjang syari’at. Berusaha membenahi hubungan mereka dengan makhluk Allah, tapi hubungan mereka dengan Allah malah terselewengkan.

upadated

3. Baru nyadar lagi alasan ketiga.

Karena kesehatan. Padahal yg seperti ini tidak bisa digeneralisir. Dikatakan lebih panjang umur dsb.

Dalam Islam, dibolehkan mencari ‘sebab’ yang memang sesuai syari’at.  Misalnya, dalam salah satu hadits, dikatakan silaturahmi dapat memperpanjang umur. Umur disini juga bermacam-macam penjelasan ulama, salah satunya yaitu benar-benar umurnya akan dipanjangkan (agak panjang penjelasannya dan bukan di sini tempatnya).

Atau juga misal makan adalah sebab untuk menghilangkan lapar.

Tapi untuk asalan ‘sehat’ untuk kemudian menjadi meng’anti’kan diri terhadap kenikmatan yang Allah berikan, maka ini yang tidak diperbolehkan.

4. Pilihan??

Salah jika dikatakan menjadi vegetarian itu adalah pilihan. Kalau seperti itu, nanti para pria yang memilih berubah jadi perempuan dan para perempuan yang memilih menjadi laki-laki, juga akan mengatakan hal yang sama. Ini pilihan saya.

Pilihan itu adalah ketika kita tidak menyukai makanan tertentu karena jijik atau tak terbiasa, sebagaimana Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak makan binatang (semacam iguana) karena memang tidak terbiasa.

Tapi Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tetap makan kambing, unta bahkan sangat menyukai memakan lengan kambing.

5. Valid atau tidaknya kehalalan daging yang dimakan

Sesungguhnya setiap hamba tidak dibebankan menjalankan syari’at di luar kemampuannya. Dan usaha-usaha untuk makan makanan yang halal bukan berarti malah mengerjakan sesuatu yang menyelisihi syari’at kan??

Jadinya aneh, mau bertakwa tapi justru memakai cara lain yang merupakan maksiat terhadap syari’at Allah.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam adalah tauladan terbaik. (Maaf ya untuk hadits-haditsnya belum bisa dicantumkan karena sedang letih untuk membuka buku-buku – lagi kurang enak badan). Intinya, misalnya kita tinggal di negara muslim yang memang telah jelas hukum penyembelihan, maka insya Allah kita bisa tenang makan daging-daging yang dijual di pasaran. Kalau tinggal di luar negeri (sebenarnya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah berlepas diri kalau kita tinggal di negeri kafir), ya inipun bisa diusahakan untuk tetap makan makanan yang halal, tapi tetap dengan tidak menjadi vegetarian. Mudah-mudahan kerepotan kita untuk mencari makanan yang halal (di LN) menjadi catatan amal kebaikan. :)

Mudah-mudahan Allah memberi hidayah kepada kita semua untuk dapat mengikuti syari’at seutuhnya dan bukan mengambil sebagian ayat (untuk hawa nafsu) dan meninggalkan ayat-ayat lainnya. Amiin

Indahnya 'Idul Adha

December 9, 2008

Alhamdulillah…seneeeng bisa masih berhari raya ‘Idul Adha tahun ini. (walaupun sempet nangis dikit, soalnya ternyata masih gak bisa pulang ke Jakarta) :P.

Di kontrakan baru ini, terkaget-kaget sewaktu sekitar sore hari, pintu rumah diketuk,

“Assalamu’alaikum!!”

“Wa’alaikumussalaam…”

“Ini akh, dari pondok”, kata sang tamu.

“Hah, banyak sekali ini.”

“Pada segitu dapat jatah semua”.

Abang masuk rumah sambil ngangkut 4 plastik yang isinya daging kurban. Alhamdulillaahh…Terus abang sibuk cerita kalau tadi lihat di masjid, padahal dari pondok pesantren Jamilurrahman sudah menjatahkan untuk kampung ini, kampung itu dll. Berarti kan banyak buanget dagingnya.

Yang takjubnya, gak lama sesudah itu pintu diketuk lagi. Ternyata dapat 1 plastik lagi jatah dari masjid yang cuma berjarak 1 rumah dari rumah kontrakan kami. Langsung sibuk pilah-pilah deh. Sambil potong sana, potong sini, kami sibuk membahas lagi berbagai komentar di muslimah. or.id, di tulisanku tentang vegetarian. Bang Hen masih terheran-heran dengan fanatiknya para vegetarian (padahal mereka Islam). Kita tahu, karena banyak komentar yang tidak ter-approve karena tidak bermanfaat untuk lainnya dan hanya debat kusir saja nantinya. Kalau mereka mau cari kebenaran, insya ALlah muslimah.or.id dengan senang hati menjawab berbagai pertanyaan. Tapi sayangnya mereka sekedar ingin membela hawa nafsu saja.

“Mereka mendebatmu tentang kebenaran, sesudah nyata kebenaran tersebut.”(Qs. al-Anfal[8]:6)

Aku sempat mengucap, “Bagaimana ini, para vegetarian. Orang-orang mah pada senang dapat daging…”

Padahal disinilah keindahan syari’at ‘Idul Adha ini. Dan berbagai komentar yang masuk dimuslimah dari para vegie itu, kalau dah ditanya gimana mereka dengan syari’at Islam yang jelas-jelas nyata, yaitu ‘Idul Adha dan Aqiqoh. Mereka gak akan bisa jawab. Kalaupun jawab, jawabannya itu cuma dicari-cari aja, bahkan menujukkan bagaimana sebenarnya pemahaman mereka terhadap Islam. Mereka katakan, itu kita gak sejaman sama Nabi Muhammad (shallallahu’alaihi wa sallam), jadi gak tahu gimana praktek kurban. Iman kita gak sebesar nabi Ibrahim, dan alasan-alasan aneh lainnya.

Alasan mereka, aku simpulkan berkisar pada:

1. Rasa kasihan dan mereka mengaku sangat menyayangi makhluk.

Jawabannya : Padahal Allah-lah yang menciptakan makhluk-makhluk tersebut (para hewan). Allah pula yang memerintahkan untuk makan para hewan tersebut. Dan Allah pula yang memerintahkan caranya dengan disembelih dan dengan menyebut nama ALlah pula!! Allah pula yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Jadi alasan mereka ini sangat tidak rasional.

2. Hewan-hewan itu disiksa untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Jawaban: Apapun kesalahan atau cara yang salah dari manusia, bukan berarti kemudian mencari-cari penyelesaian dengan menerjang syari’at. Berusaha membenahi hubungan mereka dengan makhluk Allah, tapi hubungan mereka dengan Allah malah terselewengkan.

upadated

3. Baru nyadar lagi alasan ketiga.

Karena kesehatan. Padahal yg seperti ini tidak bisa digeneralisir. Dikatakan lebih panjang umur dsb.

Dalam Islam, dibolehkan mencari ‘sebab’ yang memang sesuai syari’at.  Misalnya, dalam salah satu hadits, dikatakan silaturahmi dapat memperpanjang umur. Umur disini juga bermacam-macam penjelasan ulama, salah satunya yaitu benar-benar umurnya akan dipanjangkan (agak panjang penjelasannya dan bukan di sini tempatnya).

Atau juga misal makan adalah sebab untuk menghilangkan lapar.

Tapi untuk asalan ‘sehat’ untuk kemudian menjadi meng’anti’kan diri terhadap kenikmatan yang Allah berikan, maka ini yang tidak diperbolehkan.

4. Pilihan??

Salah jika dikatakan menjadi vegetarian itu adalah pilihan. Kalau seperti itu, nanti para pria yang memilih berubah jadi perempuan dan para perempuan yang memilih menjadi laki-laki, juga akan mengatakan hal yang sama. Ini pilihan saya.

Pilihan itu adalah ketika kita tidak menyukai makanan tertentu karena jijik atau tak terbiasa, sebagaimana Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak makan binatang (semacam iguana) karena memang tidak terbiasa.

Tapi Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tetap makan kambing, unta bahkan sangat menyukai memakan lengan kambing.

5. Valid atau tidaknya kehalalan daging yang dimakan

Sesungguhnya setiap hamba tidak dibebankan menjalankan syari’at di luar kemampuannya. Dan usaha-usaha untuk makan makanan yang halal bukan berarti malah mengerjakan sesuatu yang menyelisihi syari’at kan??

Jadinya aneh, mau bertakwa tapi justru memakai cara lain yang merupakan maksiat terhadap syari’at Allah.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam adalah tauladan terbaik. (Maaf ya untuk hadits-haditsnya belum bisa dicantumkan karena sedang letih untuk membuka buku-buku – lagi kurang enak badan). Intinya, misalnya kita tinggal di negara muslim yang memang telah jelas hukum penyembelihan, maka insya Allah kita bisa tenang makan daging-daging yang dijual di pasaran. Kalau tinggal di luar negeri (sebenarnya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah berlepas diri kalau kita tinggal di negeri kafir), ya inipun bisa diusahakan untuk tetap makan makanan yang halal, tapi tetap dengan tidak menjadi vegetarian. Mudah-mudahan kerepotan kita untuk mencari makanan yang halal (di LN) menjadi catatan amal kebaikan. :)

Mudah-mudahan Allah memberi hidayah kepada kita semua untuk dapat mengikuti syari’at seutuhnya dan bukan mengambil sebagian ayat (untuk hawa nafsu) dan meninggalkan ayat-ayat lainnya. Amiin

Ada yang Pindah ke Kankoyo

December 2, 2008

Setelah melalui berbagai pertimbangan…uhuk uhuk… pembicaraan yang berbau rumah tangga akan aku pindahkan ke kankoyo.wordpress.com. Insya ALlah.

Dapet Kapur Sirih!

November 25, 2008

Alhamdulillah…setelah 2 tahun menikah, akhirnya bisa juga dan akhirnya mendapatkan juga kapur sirih. Hehehe..berlebihan ya…Habiss…dari dulu nanya ke warung gak dapet-dapet. Akhirnya, tadi bang Hen ke pasar berhasil membeli kapur sirih ini. Rp. 1000 sebungkusnya!!

Bisa mulai bereksperimen bikin kue-kue yang pake kapur sirih nih. Kemaren rada maksa bikin klepon gak pake kapur sirih. Jadi juga sih…tapi rasanya emang agak beda dung.

Karena kemarin banyak juga point perkembangan yang ketinggalan, dan sekarang juga dah nambah lagi perkembangan lainnya, sekalian aja deh dijadikan satu. Soalnya ada juga poin yang kemarin, pada bulan ke-16 ini berkembang kemampuannya. Apa sajakah itu??

Mulai Bisa Duduk Tegak Sendiri
Gimana ya membahasakannya. Intinya sebenarnya, sebelum-sebelumnya pun dia dah bisa duduk sendiri. Tapi yang ini posisinya duduk seperti di bangku. Wah… dia seneng banget. Kemarin-kemarin biasanya dia ngambil posisi duduk di meja pendek. Tapi kakinya tetap menjuntai-juntai. Akhirnya meja lipat pun juga jadi sasaran duduk. Alhamdulillah beberapa hari yang lalu, bang Hen sempatin beli kursi kecil merk Lion Star. Persis banget kaya punyaku yang di Jakarta. Itu dari aku kecil sampai aku seumur sekarang masih awet lho. Modelnya gak aneh-aneh kok. Polos aja. Cuma yang ini ada gambarnya di tempat dudukannya. Mungkin punyaku yang di Jakarta, dulu juga ada gambarnya ya? Aus di makan usia. Huhuhuh…

Makannya Tetap Susah

Untuk urusan makan nih, susaahhh banget. Sampai-sampai kalau bangun tidur tuh rasanya mau nangis, pusing mikirin “Hari ini kasih makan apa ya buat Syaikhan???” Soalnya kadang (sering ding), udah dibikinin susah-susah, ternyata dia juga tetap gak mau makan. Hik…alternatif sebulan ini, biasanya pakai Taro. Sadar banget sih kalau itu ada MSG-nya. Banyak malah. Tapi gimana. Soalnya walau lapar, kalau memang gak mau makan, ya dia gak makan. Tapi kalau disodorin nasi pakai taro, atau kita bilangin, “Taro…taroo..”, buka deh mulutnya.

Kemarin tapi seneng banget, dia lahap banget pas aku bikin lemper dadakan. Lagi senang, boleh ngambil daun pisang tetangga. (Kan ngeri loh kalau pakai barang-barang haram, mau kaya gimana do’a gak terkabul kalau dah mengkonsumsi barang haram, wal ‘iyya dzu billah). Sempat juga kemarin aku gorengin limpa sisa makan kemarin. Wahh…lahap sekali. Coba tiap hari ya Sayaang…

Hasil Ajaran Mulai dari yang Kanan

Alhamdulillah, pembiasaaan pemakaian baju yang dimulai kaki kanan dan lepas baju celana yang dimulai dengan kaki kiri juga sudah menampakkan hasilnya. Misalnya habis mandi terus dipakaikan baju, nanti dia nyodorin tangan kanannya dulu. Kelihatannya sepele ya? Padahal ini sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Dan aku perhatikan, sudah berapa orang ya… yang terjadi justru sebaliknya. Sewaktu memakaikan baju ke anaknya atau ke anak kecil, mulainya malah tangan kiri duluan. Eh..pas lepas baju malah yang kanan duluan. Kalau sedang lepas baju, biasanya lepas celana ding yang keliatan, nanti yang berdiri kaki kiri duluan (jadinya kita kan bisa ngelepasin bagian celana yang kiri dulu tuh). Masalah pakai sandal juga gitu lho. Karena dah dibiasain kaki kanan duluan, biasanya dia kalau kita mau pakaikan sandal, juga dah nyodorin kaki kanan duluan.

Yang masih susah dibilangin tuh, makan pakai tangan kanan. Yang ini masih lupaaa terus. Padahal baru 1 detik yang lalu dibilangin, tetap nanti tau-tau yang masukin makanan tangan kiri. Setidaknya usianya masih 16 bulan ya. Mudah-mudahan insya Allah masih bisa dibentuk. Yang susah tuh, orang dah gede, tapi susah dibilangin kalau makan dan minum pakai tangan kiri. (Padahal hukum makan dan minum dengan tangan kiri bukan sekedar makruh lho, tapi haram). Ada aja alasannya, yang kidal gimana dsb. Padahal gak ada pengecualian dalam hal ini, karena yang seperti ini bisa dilatih insya Allah.

Yang lebih menyedihkan lagi adalah, ketika kita susah payah melatih anak kita makan dan minum dengan tangan kanan, tapi ya itu, orang-orang di sekitar kita makan dan minum dengan tangan kiri (dengan santainya pula). Asli lho, masalah ini nih, masalah kebiasaan. Soalnya dulu aku refleknya juga pas minum pakai tangan kiri. Ini sebenarnya hasil budaya barat lho. Bukan dariIslam. Karena kalau di Islam, makan pakai tangan kanan, (dan walaupun tangannya kotor bekas makan), minumnya juga tetap pakai tangan kanan. Apa susahnya sih nyuci gelas sebentar, daripada melanggar perintah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.

Reflek Mandi dan Naik Tangga
Yang ini lucu. Kalau dibuka baju dan celananya (padahal maksudnya cuma mau ganti baju dan celananya yang sudah belepotan), ternyata dia langsung lari ke kamar mandi.
“Ehhh…Syaikah gak mandi kokk…Umi cuma mau gantiin baju Syaikhan…”

Bang Hen yang melihat kejadian itu langsung ketawa geli. Pernah juga aku lepas celananya aja, dia juga langsung mau lari ke kamar mandi. Kalau yang ini bukan mau mandi. Soalnya kebiasaan juga nyuci kakinya yang kotor banget kalau dah main seharian (hasil nginjek makanan etc yang berceceran di lantai).
Kalau reflek mau naik tangga tuh kalau pakai sendal. Jadi, kalau aku dah memakaikan sendal, langsung dia manjat tangga. (Padahal belum tentu juga). Tapi kalau emang pas lagi mau aku ajakin ke lantai atas, paling aku sibuk nyuruh dia menunggu,

“Intadziirr…intadzirr…” (Tunggu! Tunggu!)

Berhubung sejak minggu kemarin, mulai sering diajak jalan keluar (tanpa kereta), sekarang kalau pakai sendal dia gak selalu langsung ke tangga. Malah seneng banget kali yaa kalau mau diajakin keluar. Tapi karena lagi hujan terus, ya gak selalu bisa diajak keluar.

Mulai Susah Dilarang
Kalau kemarin-kemarin, sekali panggilan keras dia langsung nengok dan menghentikan aksi yang sedang dilakukannya, sekarang-sekarang agak susah menghentikan atau melarang ulahnya. Malah seringnya, dia melanjutkan aksinya. Bikin Abi sama Umi emosi dehhh…Mesti benar-benar ditangani terjun ke lapangan dia beraksi. Hehehe…Gak bisa kalau cuma dipanggil atau dilarang pakai omongan. Harus langsung ditarik atau kita tahan badannya. Yaa…aku sama bang Hen masih belajar tidak menampakkan emosi itu. Kadang kelepasan keluar eluhan, – dan ini ternyata ditiru juga sama Syaikhan-. Jadi, mesti banyak-banyak tarik napas dan kontrol nada suara.

Ada juga kebiasaan bang Hen yang memberi pukulan di meja atau benda di dekat Syaikhan (maksudnya seperti ancaman gitu kali ya), ternyata diserap secara negatif oleh Syaikhan. Kalau dia tidak mendapatkan keinginannya, sekarang dia mukul-mukul benda-benda di sekitarnya (termasuk Uminya). Jadi bahan koreksi deh buat bang Hen. Kalau kebiasaan negatifku yang aku sadar setelah ada Syaikhan adalah menunjuk dengan tangan kiri. Wah, jadi orang tua itu, membelajarkan anak dan membelajarkan diri sendiri lho ternyata. Soalnya kan kita maunya anak itu hasilnya positif toh, kalau kitanya negatif kayanya naif banget melatih anaknya untuk positif kan? Dalam segala hal lho. Kalau yang ini, bang Hen yang mengingatkan. Aku pikir tadinya gak ada masalah. Sampai aku dengerin kajiannya ust. Armen Halem Naro rahimahullah, ternyata menunjuk dengan tangan kiri tuh termasuk perendahan terhadap orang yang diajak berbicara juga ya. Yah, pokoknya negatif deh. Jadinya, kalau yang ini jadi bahan koreksi buat aku sendiri.

Bisa diPerintah
Mungkin aku sama bang Hen mesti menemukan cara melarang dengan metode perintah yang tepat. Soalnya kalau diperintah, Syaikhan akan berusaha melaksanakan perintah itu. Misalnya disuruh ambil sesuatu,
“Khudz!! Khudzz.!! Hunaaak….Ambil….Itu di sanaaa…Khudzz!!”
Dia langsung celingukan deh, terus ngambil sesuatu, walau kadang gak tepat. Soalnya arah pandangan dia masih belum tepat dengan barang yang kita tunjuk. Atau kalau kita suruh duduk, dia langsung duduk. Kita bilang, bobo, dia langsung ngerebahin kepalanya. Perintah lainnya yang dia ngerti,
“Tutuuupp…tutup…ighlaq ighlaq! ” (tutup kulkas)
“Taruh…taruh! Dlo’ Dlo’! (meletakkan barang)
“Kasih Umi…kasih umi…” (memberikan barang)

Bisa Adzan

Hehehe…yang ini ga serius keluar kata Allahu AKbar lah ya…orang belum ada kata satupun yang secara jelas dia benar pengucapannya. Kejadiannya, waktu dia seperti biasa minta diceritain isi gambar-gambar yang ada di majalah. Waktu itu yang dipegang majalah Tashfia (yang udah ga terbit lagi). Kan’ banyak gambar mesjidnya. Terus aku ceritain deh…

“Ini masjidd…..Ini tempat orang sholat. Ini menaranya. Kalau adzan kedengeran dari sini. Allahu Akbar Allaaaahu AKbar…”

Aku lanjutin deh adzannya….Ehhhh ternyata dia menyenandungkan adzan juga lho. Abis itu kalau ditunjukkan gambar masjid, atau Abi mencontohkan adzan juga, dia langsung adzan juga.

“Enggg…..ennnnnnnggg engggg….”

Yang heran itu tadi malam. Seperti biasa, kalau kita sedang kerja di depan komputer, ada saat-saat dia nyelip ke pangkuan kita. Tadi malam di kasih liat gambar-gambar yang ada di komputer sama bang Hen. Eh..pas dikasih liat gambar Masjidil Haram yang dari luar angkasa (padahal kan gak keliatan gambar masjid lho), dan kita gak ngomong apa-apa, tau-tau dia mulai adzan. Waahh…subhanallahh….

Mudah-mudahan jadi ulama ya sayang…atau jadi yang lainnya asal bermanfaat untuk orang banyak terutama untuk membantu agama Allah. Aamiin…

Karena kemarin banyak juga point perkembangan yang ketinggalan, dan sekarang juga dah nambah lagi perkembangan lainnya, sekalian aja deh dijadikan satu. Soalnya ada juga poin yang kemarin, pada bulan ke-16 ini berkembang kemampuannya. Apa sajakah itu??

Mulai Bisa Duduk Tegak Sendiri
Gimana ya membahasakannya. Intinya sebenarnya, sebelum-sebelumnya pun dia dah bisa duduk sendiri. Tapi yang ini posisinya duduk seperti di bangku. Wah… dia seneng banget. Kemarin-kemarin biasanya dia ngambil posisi duduk di meja pendek. Tapi kakinya tetap menjuntai-juntai. Akhirnya meja lipat pun juga jadi sasaran duduk. Alhamdulillah beberapa hari yang lalu, bang Hen sempatin beli kursi kecil merk Lion Star. Persis banget kaya punyaku yang di Jakarta. Itu dari aku kecil sampai aku seumur sekarang masih awet lho. Modelnya gak aneh-aneh kok. Polos aja. Cuma yang ini ada gambarnya di tempat dudukannya. Mungkin punyaku yang di Jakarta, dulu juga ada gambarnya ya? Aus di makan usia. Huhuhuh…

Makannya Tetap Susah

Untuk urusan makan nih, susaahhh banget. Sampai-sampai kalau bangun tidur tuh rasanya mau nangis, pusing mikirin “Hari ini kasih makan apa ya buat Syaikhan???” Soalnya kadang (sering ding), udah dibikinin susah-susah, ternyata dia juga tetap gak mau makan. Hik…alternatif sebulan ini, biasanya pakai Taro. Sadar banget sih kalau itu ada MSG-nya. Banyak malah. Tapi gimana. Soalnya walau lapar, kalau memang gak mau makan, ya dia gak makan. Tapi kalau disodorin nasi pakai taro, atau kita bilangin, “Taro…taroo..”, buka deh mulutnya.

Kemarin tapi seneng banget, dia lahap banget pas aku bikin lemper dadakan. Lagi senang, boleh ngambil daun pisang tetangga. (Kan ngeri loh kalau pakai barang-barang haram, mau kaya gimana do’a gak terkabul kalau dah mengkonsumsi barang haram, wal ‘iyya dzu billah). Sempat juga kemarin aku gorengin limpa sisa makan kemarin. Wahh…lahap sekali. Coba tiap hari ya Sayaang…

Hasil Ajaran Mulai dari yang Kanan

Alhamdulillah, pembiasaaan pemakaian baju yang dimulai kaki kanan dan lepas baju celana yang dimulai dengan kaki kiri juga sudah menampakkan hasilnya. Misalnya habis mandi terus dipakaikan baju, nanti dia nyodorin tangan kanannya dulu. Kelihatannya sepele ya? Padahal ini sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Dan aku perhatikan, sudah berapa orang ya… yang terjadi justru sebaliknya. Sewaktu memakaikan baju ke anaknya atau ke anak kecil, mulainya malah tangan kiri duluan. Eh..pas lepas baju malah yang kanan duluan. Kalau sedang lepas baju, biasanya lepas celana ding yang keliatan, nanti yang berdiri kaki kiri duluan (jadinya kita kan bisa ngelepasin bagian celana yang kiri dulu tuh). Masalah pakai sandal juga gitu lho. Karena dah dibiasain kaki kanan duluan, biasanya dia kalau kita mau pakaikan sandal, juga dah nyodorin kaki kanan duluan.

Yang masih susah dibilangin tuh, makan pakai tangan kanan. Yang ini masih lupaaa terus. Padahal baru 1 detik yang lalu dibilangin, tetap nanti tau-tau yang masukin makanan tangan kiri. Setidaknya usianya masih 16 bulan ya. Mudah-mudahan insya Allah masih bisa dibentuk. Yang susah tuh, orang dah gede, tapi susah dibilangin kalau makan dan minum pakai tangan kiri. (Padahal hukum makan dan minum dengan tangan kiri bukan sekedar makruh lho, tapi haram). Ada aja alasannya, yang kidal gimana dsb. Padahal gak ada pengecualian dalam hal ini, karena yang seperti ini bisa dilatih insya Allah.

Yang lebih menyedihkan lagi adalah, ketika kita susah payah melatih anak kita makan dan minum dengan tangan kanan, tapi ya itu, orang-orang di sekitar kita makan dan minum dengan tangan kiri (dengan santainya pula). Asli lho, masalah ini nih, masalah kebiasaan. Soalnya dulu aku refleknya juga pas minum pakai tangan kiri. Ini sebenarnya hasil budaya barat lho. Bukan dariIslam. Karena kalau di Islam, makan pakai tangan kanan, (dan walaupun tangannya kotor bekas makan), minumnya juga tetap pakai tangan kanan. Apa susahnya sih nyuci gelas sebentar, daripada melanggar perintah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.

Reflek Mandi dan Naik Tangga
Yang ini lucu. Kalau dibuka baju dan celananya (padahal maksudnya cuma mau ganti baju dan celananya yang sudah belepotan), ternyata dia langsung lari ke kamar mandi.
“Ehhh…Syaikah gak mandi kokk…Umi cuma mau gantiin baju Syaikhan…”

Bang Hen yang melihat kejadian itu langsung ketawa geli. Pernah juga aku lepas celananya aja, dia juga langsung mau lari ke kamar mandi. Kalau yang ini bukan mau mandi. Soalnya kebiasaan juga nyuci kakinya yang kotor banget kalau dah main seharian (hasil nginjek makanan etc yang berceceran di lantai).
Kalau reflek mau naik tangga tuh kalau pakai sendal. Jadi, kalau aku dah memakaikan sendal, langsung dia manjat tangga. (Padahal belum tentu juga). Tapi kalau emang pas lagi mau aku ajakin ke lantai atas, paling aku sibuk nyuruh dia menunggu,

“Intadziirr…intadzirr…” (Tunggu! Tunggu!)

Berhubung sejak minggu kemarin, mulai sering diajak jalan keluar (tanpa kereta), sekarang kalau pakai sendal dia gak selalu langsung ke tangga. Malah seneng banget kali yaa kalau mau diajakin keluar. Tapi karena lagi hujan terus, ya gak selalu bisa diajak keluar.

Mulai Susah Dilarang
Kalau kemarin-kemarin, sekali panggilan keras dia langsung nengok dan menghentikan aksi yang sedang dilakukannya, sekarang-sekarang agak susah menghentikan atau melarang ulahnya. Malah seringnya, dia melanjutkan aksinya. Bikin Abi sama Umi emosi dehhh…Mesti benar-benar ditangani terjun ke lapangan dia beraksi. Hehehe…Gak bisa kalau cuma dipanggil atau dilarang pakai omongan. Harus langsung ditarik atau kita tahan badannya. Yaa…aku sama bang Hen masih belajar tidak menampakkan emosi itu. Kadang kelepasan keluar eluhan, – dan ini ternyata ditiru juga sama Syaikhan-. Jadi, mesti banyak-banyak tarik napas dan kontrol nada suara.

Ada juga kebiasaan bang Hen yang memberi pukulan di meja atau benda di dekat Syaikhan (maksudnya seperti ancaman gitu kali ya), ternyata diserap secara negatif oleh Syaikhan. Kalau dia tidak mendapatkan keinginannya, sekarang dia mukul-mukul benda-benda di sekitarnya (termasuk Uminya). Jadi bahan koreksi deh buat bang Hen. Kalau kebiasaan negatifku yang aku sadar setelah ada Syaikhan adalah menunjuk dengan tangan kiri. Wah, jadi orang tua itu, membelajarkan anak dan membelajarkan diri sendiri lho ternyata. Soalnya kan kita maunya anak itu hasilnya positif toh, kalau kitanya negatif kayanya naif banget melatih anaknya untuk positif kan? Dalam segala hal lho. Kalau yang ini, bang Hen yang mengingatkan. Aku pikir tadinya gak ada masalah. Sampai aku dengerin kajiannya ust. Armen Halem Naro rahimahullah, ternyata menunjuk dengan tangan kiri tuh termasuk perendahan terhadap orang yang diajak berbicara juga ya. Yah, pokoknya negatif deh. Jadinya, kalau yang ini jadi bahan koreksi buat aku sendiri.

Bisa diPerintah
Mungkin aku sama bang Hen mesti menemukan cara melarang dengan metode perintah yang tepat. Soalnya kalau diperintah, Syaikhan akan berusaha melaksanakan perintah itu. Misalnya disuruh ambil sesuatu,
“Khudz!! Khudzz.!! Hunaaak….Ambil….Itu di sanaaa…Khudzz!!”
Dia langsung celingukan deh, terus ngambil sesuatu, walau kadang gak tepat. Soalnya arah pandangan dia masih belum tepat dengan barang yang kita tunjuk. Atau kalau kita suruh duduk, dia langsung duduk. Kita bilang, bobo, dia langsung ngerebahin kepalanya. Perintah lainnya yang dia ngerti,
“Tutuuupp…tutup…ighlaq ighlaq! ” (tutup kulkas)
“Taruh…taruh! Dlo’ Dlo’! (meletakkan barang)
“Kasih Umi…kasih umi…” (memberikan barang)

Bisa Adzan

Hehehe…yang ini ga serius keluar kata Allahu AKbar lah ya…orang belum ada kata satupun yang secara jelas dia benar pengucapannya. Kejadiannya, waktu dia seperti biasa minta diceritain isi gambar-gambar yang ada di majalah. Waktu itu yang dipegang majalah Tashfia (yang udah ga terbit lagi). Kan’ banyak gambar mesjidnya. Terus aku ceritain deh…

“Ini masjidd…..Ini tempat orang sholat. Ini menaranya. Kalau adzan kedengeran dari sini. Allahu Akbar Allaaaahu AKbar…”

Aku lanjutin deh adzannya….Ehhhh ternyata dia menyenandungkan adzan juga lho. Abis itu kalau ditunjukkan gambar masjid, atau Abi mencontohkan adzan juga, dia langsung adzan juga.

“Enggg…..ennnnnnnggg engggg….”

Yang heran itu tadi malam. Seperti biasa, kalau kita sedang kerja di depan komputer, ada saat-saat dia nyelip ke pangkuan kita. Tadi malam di kasih liat gambar-gambar yang ada di komputer sama bang Hen. Eh..pas dikasih liat gambar Masjidil Haram yang dari luar angkasa (padahal kan gak keliatan gambar masjid lho), dan kita gak ngomong apa-apa, tau-tau dia mulai adzan. Waahh…subhanallahh….

Mudah-mudahan jadi ulama ya sayang…atau jadi yang lainnya asal bermanfaat untuk orang banyak terutama untuk membantu agama Allah. Aamiin…