My Children's Growth: Ziyad Syaikhan, 16 Bulan

November 25, 2008

Karena kemarin banyak juga point perkembangan yang ketinggalan, dan sekarang juga dah nambah lagi perkembangan lainnya, sekalian aja deh dijadikan satu. Soalnya ada juga poin yang kemarin, pada bulan ke-16 ini berkembang kemampuannya. Apa sajakah itu??

Mulai Bisa Duduk Tegak Sendiri
Gimana ya membahasakannya. Intinya sebenarnya, sebelum-sebelumnya pun dia dah bisa duduk sendiri. Tapi yang ini posisinya duduk seperti di bangku. Wah… dia seneng banget. Kemarin-kemarin biasanya dia ngambil posisi duduk di meja pendek. Tapi kakinya tetap menjuntai-juntai. Akhirnya meja lipat pun juga jadi sasaran duduk. Alhamdulillah beberapa hari yang lalu, bang Hen sempatin beli kursi kecil merk Lion Star. Persis banget kaya punyaku yang di Jakarta. Itu dari aku kecil sampai aku seumur sekarang masih awet lho. Modelnya gak aneh-aneh kok. Polos aja. Cuma yang ini ada gambarnya di tempat dudukannya. Mungkin punyaku yang di Jakarta, dulu juga ada gambarnya ya? Aus di makan usia. Huhuhuh…

Makannya Tetap Susah

Untuk urusan makan nih, susaahhh banget. Sampai-sampai kalau bangun tidur tuh rasanya mau nangis, pusing mikirin “Hari ini kasih makan apa ya buat Syaikhan???” Soalnya kadang (sering ding), udah dibikinin susah-susah, ternyata dia juga tetap gak mau makan. Hik…alternatif sebulan ini, biasanya pakai Taro. Sadar banget sih kalau itu ada MSG-nya. Banyak malah. Tapi gimana. Soalnya walau lapar, kalau memang gak mau makan, ya dia gak makan. Tapi kalau disodorin nasi pakai taro, atau kita bilangin, “Taro…taroo..”, buka deh mulutnya.

Kemarin tapi seneng banget, dia lahap banget pas aku bikin lemper dadakan. Lagi senang, boleh ngambil daun pisang tetangga. (Kan ngeri loh kalau pakai barang-barang haram, mau kaya gimana do’a gak terkabul kalau dah mengkonsumsi barang haram, wal ‘iyya dzu billah). Sempat juga kemarin aku gorengin limpa sisa makan kemarin. Wahh…lahap sekali. Coba tiap hari ya Sayaang…

Hasil Ajaran Mulai dari yang Kanan

Alhamdulillah, pembiasaaan pemakaian baju yang dimulai kaki kanan dan lepas baju celana yang dimulai dengan kaki kiri juga sudah menampakkan hasilnya. Misalnya habis mandi terus dipakaikan baju, nanti dia nyodorin tangan kanannya dulu. Kelihatannya sepele ya? Padahal ini sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Dan aku perhatikan, sudah berapa orang ya… yang terjadi justru sebaliknya. Sewaktu memakaikan baju ke anaknya atau ke anak kecil, mulainya malah tangan kiri duluan. Eh..pas lepas baju malah yang kanan duluan. Kalau sedang lepas baju, biasanya lepas celana ding yang keliatan, nanti yang berdiri kaki kiri duluan (jadinya kita kan bisa ngelepasin bagian celana yang kiri dulu tuh). Masalah pakai sandal juga gitu lho. Karena dah dibiasain kaki kanan duluan, biasanya dia kalau kita mau pakaikan sandal, juga dah nyodorin kaki kanan duluan.

Yang masih susah dibilangin tuh, makan pakai tangan kanan. Yang ini masih lupaaa terus. Padahal baru 1 detik yang lalu dibilangin, tetap nanti tau-tau yang masukin makanan tangan kiri. Setidaknya usianya masih 16 bulan ya. Mudah-mudahan insya Allah masih bisa dibentuk. Yang susah tuh, orang dah gede, tapi susah dibilangin kalau makan dan minum pakai tangan kiri. (Padahal hukum makan dan minum dengan tangan kiri bukan sekedar makruh lho, tapi haram). Ada aja alasannya, yang kidal gimana dsb. Padahal gak ada pengecualian dalam hal ini, karena yang seperti ini bisa dilatih insya Allah.

Yang lebih menyedihkan lagi adalah, ketika kita susah payah melatih anak kita makan dan minum dengan tangan kanan, tapi ya itu, orang-orang di sekitar kita makan dan minum dengan tangan kiri (dengan santainya pula). Asli lho, masalah ini nih, masalah kebiasaan. Soalnya dulu aku refleknya juga pas minum pakai tangan kiri. Ini sebenarnya hasil budaya barat lho. Bukan dariIslam. Karena kalau di Islam, makan pakai tangan kanan, (dan walaupun tangannya kotor bekas makan), minumnya juga tetap pakai tangan kanan. Apa susahnya sih nyuci gelas sebentar, daripada melanggar perintah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.

Reflek Mandi dan Naik Tangga
Yang ini lucu. Kalau dibuka baju dan celananya (padahal maksudnya cuma mau ganti baju dan celananya yang sudah belepotan), ternyata dia langsung lari ke kamar mandi.
“Ehhh…Syaikah gak mandi kokk…Umi cuma mau gantiin baju Syaikhan…”

Bang Hen yang melihat kejadian itu langsung ketawa geli. Pernah juga aku lepas celananya aja, dia juga langsung mau lari ke kamar mandi. Kalau yang ini bukan mau mandi. Soalnya kebiasaan juga nyuci kakinya yang kotor banget kalau dah main seharian (hasil nginjek makanan etc yang berceceran di lantai).
Kalau reflek mau naik tangga tuh kalau pakai sendal. Jadi, kalau aku dah memakaikan sendal, langsung dia manjat tangga. (Padahal belum tentu juga). Tapi kalau emang pas lagi mau aku ajakin ke lantai atas, paling aku sibuk nyuruh dia menunggu,

“Intadziirr…intadzirr…” (Tunggu! Tunggu!)

Berhubung sejak minggu kemarin, mulai sering diajak jalan keluar (tanpa kereta), sekarang kalau pakai sendal dia gak selalu langsung ke tangga. Malah seneng banget kali yaa kalau mau diajakin keluar. Tapi karena lagi hujan terus, ya gak selalu bisa diajak keluar.

Mulai Susah Dilarang
Kalau kemarin-kemarin, sekali panggilan keras dia langsung nengok dan menghentikan aksi yang sedang dilakukannya, sekarang-sekarang agak susah menghentikan atau melarang ulahnya. Malah seringnya, dia melanjutkan aksinya. Bikin Abi sama Umi emosi dehhh…Mesti benar-benar ditangani terjun ke lapangan dia beraksi. Hehehe…Gak bisa kalau cuma dipanggil atau dilarang pakai omongan. Harus langsung ditarik atau kita tahan badannya. Yaa…aku sama bang Hen masih belajar tidak menampakkan emosi itu. Kadang kelepasan keluar eluhan, – dan ini ternyata ditiru juga sama Syaikhan-. Jadi, mesti banyak-banyak tarik napas dan kontrol nada suara.

Ada juga kebiasaan bang Hen yang memberi pukulan di meja atau benda di dekat Syaikhan (maksudnya seperti ancaman gitu kali ya), ternyata diserap secara negatif oleh Syaikhan. Kalau dia tidak mendapatkan keinginannya, sekarang dia mukul-mukul benda-benda di sekitarnya (termasuk Uminya). Jadi bahan koreksi deh buat bang Hen. Kalau kebiasaan negatifku yang aku sadar setelah ada Syaikhan adalah menunjuk dengan tangan kiri. Wah, jadi orang tua itu, membelajarkan anak dan membelajarkan diri sendiri lho ternyata. Soalnya kan kita maunya anak itu hasilnya positif toh, kalau kitanya negatif kayanya naif banget melatih anaknya untuk positif kan? Dalam segala hal lho. Kalau yang ini, bang Hen yang mengingatkan. Aku pikir tadinya gak ada masalah. Sampai aku dengerin kajiannya ust. Armen Halem Naro rahimahullah, ternyata menunjuk dengan tangan kiri tuh termasuk perendahan terhadap orang yang diajak berbicara juga ya. Yah, pokoknya negatif deh. Jadinya, kalau yang ini jadi bahan koreksi buat aku sendiri.

Bisa diPerintah
Mungkin aku sama bang Hen mesti menemukan cara melarang dengan metode perintah yang tepat. Soalnya kalau diperintah, Syaikhan akan berusaha melaksanakan perintah itu. Misalnya disuruh ambil sesuatu,
“Khudz!! Khudzz.!! Hunaaak….Ambil….Itu di sanaaa…Khudzz!!”
Dia langsung celingukan deh, terus ngambil sesuatu, walau kadang gak tepat. Soalnya arah pandangan dia masih belum tepat dengan barang yang kita tunjuk. Atau kalau kita suruh duduk, dia langsung duduk. Kita bilang, bobo, dia langsung ngerebahin kepalanya. Perintah lainnya yang dia ngerti,
“Tutuuupp…tutup…ighlaq ighlaq! ” (tutup kulkas)
“Taruh…taruh! Dlo’ Dlo’! (meletakkan barang)
“Kasih Umi…kasih umi…” (memberikan barang)

Bisa Adzan

Hehehe…yang ini ga serius keluar kata Allahu AKbar lah ya…orang belum ada kata satupun yang secara jelas dia benar pengucapannya. Kejadiannya, waktu dia seperti biasa minta diceritain isi gambar-gambar yang ada di majalah. Waktu itu yang dipegang majalah Tashfia (yang udah ga terbit lagi). Kan’ banyak gambar mesjidnya. Terus aku ceritain deh…

“Ini masjidd…..Ini tempat orang sholat. Ini menaranya. Kalau adzan kedengeran dari sini. Allahu Akbar Allaaaahu AKbar…”

Aku lanjutin deh adzannya….Ehhhh ternyata dia menyenandungkan adzan juga lho. Abis itu kalau ditunjukkan gambar masjid, atau Abi mencontohkan adzan juga, dia langsung adzan juga.

“Enggg…..ennnnnnnggg engggg….”

Yang heran itu tadi malam. Seperti biasa, kalau kita sedang kerja di depan komputer, ada saat-saat dia nyelip ke pangkuan kita. Tadi malam di kasih liat gambar-gambar yang ada di komputer sama bang Hen. Eh..pas dikasih liat gambar Masjidil Haram yang dari luar angkasa (padahal kan gak keliatan gambar masjid lho), dan kita gak ngomong apa-apa, tau-tau dia mulai adzan. Waahh…subhanallahh….

Mudah-mudahan jadi ulama ya sayang…atau jadi yang lainnya asal bermanfaat untuk orang banyak terutama untuk membantu agama Allah. Aamiin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: