Dapet Kapur Sirih!

November 25, 2008

Alhamdulillah…setelah 2 tahun menikah, akhirnya bisa juga dan akhirnya mendapatkan juga kapur sirih. Hehehe..berlebihan ya…Habiss…dari dulu nanya ke warung gak dapet-dapet. Akhirnya, tadi bang Hen ke pasar berhasil membeli kapur sirih ini. Rp. 1000 sebungkusnya!!

Bisa mulai bereksperimen bikin kue-kue yang pake kapur sirih nih. Kemaren rada maksa bikin klepon gak pake kapur sirih. Jadi juga sih…tapi rasanya emang agak beda dung.

Aku, dan terutama suami, suka memperhatikan bahasa. Kejadian dengan anak kami, Ziyad Syaikhan ternyata juga bisa jadi pelajaran bahasa buat kami. Biasanya kalau Syaikhan memukul aku atau bang Hen, aku langsung berkata,

“EEHhhHH!….kok Umi dipukul…jangan dipukul!!” Bolehnya disayangg!!”
Sadar tidak, kesalahan bahasa yang aku gunakan?
Kalau bang Hen sadar. Hehehe..
Tidak ada dalam kalimat bahasa Indonesia yang tepat, penggunaan kata pasif dalam kalimat perintah. Seharusnya yang benar, “Jangan pukul”.  Karena ini merupakan kalimat perintah kepada orang kedua.
Kalau perintahnya, “Syaikhan!! Jangan dipukul !”
Siapa yang jadi pelakunya? Seharusnya Syaikhan kan? Tapi kalimatnya jadi rancu karena ada kalimat pasif yang membutuhkan pelaku lain, yaitu Umi yang jangan dipukul. Padahal, dalam perintah tersebut, si Umi bukan jadi pelaku (subyek), tapi jadi objek (yang dipukul).
Wah…benar juga ya bang! Kita ketawa-tawa waktu ngebahas ini. Baru kepikiran deh. Sekarang kalau melarang Syaikhan, jadinya suka meralat kalimat deh.
“Syaikhan…jangan mukulll” –hehehe…well..walaupun gak baku, setidaknya secara struktur bahasa dah bener. Namanya juga bahasa percakapan sehari-hari.

Karena kemarin banyak juga point perkembangan yang ketinggalan, dan sekarang juga dah nambah lagi perkembangan lainnya, sekalian aja deh dijadikan satu. Soalnya ada juga poin yang kemarin, pada bulan ke-16 ini berkembang kemampuannya. Apa sajakah itu??

Mulai Bisa Duduk Tegak Sendiri
Gimana ya membahasakannya. Intinya sebenarnya, sebelum-sebelumnya pun dia dah bisa duduk sendiri. Tapi yang ini posisinya duduk seperti di bangku. Wah… dia seneng banget. Kemarin-kemarin biasanya dia ngambil posisi duduk di meja pendek. Tapi kakinya tetap menjuntai-juntai. Akhirnya meja lipat pun juga jadi sasaran duduk. Alhamdulillah beberapa hari yang lalu, bang Hen sempatin beli kursi kecil merk Lion Star. Persis banget kaya punyaku yang di Jakarta. Itu dari aku kecil sampai aku seumur sekarang masih awet lho. Modelnya gak aneh-aneh kok. Polos aja. Cuma yang ini ada gambarnya di tempat dudukannya. Mungkin punyaku yang di Jakarta, dulu juga ada gambarnya ya? Aus di makan usia. Huhuhuh…

Makannya Tetap Susah

Untuk urusan makan nih, susaahhh banget. Sampai-sampai kalau bangun tidur tuh rasanya mau nangis, pusing mikirin “Hari ini kasih makan apa ya buat Syaikhan???” Soalnya kadang (sering ding), udah dibikinin susah-susah, ternyata dia juga tetap gak mau makan. Hik…alternatif sebulan ini, biasanya pakai Taro. Sadar banget sih kalau itu ada MSG-nya. Banyak malah. Tapi gimana. Soalnya walau lapar, kalau memang gak mau makan, ya dia gak makan. Tapi kalau disodorin nasi pakai taro, atau kita bilangin, “Taro…taroo..”, buka deh mulutnya.

Kemarin tapi seneng banget, dia lahap banget pas aku bikin lemper dadakan. Lagi senang, boleh ngambil daun pisang tetangga. (Kan ngeri loh kalau pakai barang-barang haram, mau kaya gimana do’a gak terkabul kalau dah mengkonsumsi barang haram, wal ‘iyya dzu billah). Sempat juga kemarin aku gorengin limpa sisa makan kemarin. Wahh…lahap sekali. Coba tiap hari ya Sayaang…

Hasil Ajaran Mulai dari yang Kanan

Alhamdulillah, pembiasaaan pemakaian baju yang dimulai kaki kanan dan lepas baju celana yang dimulai dengan kaki kiri juga sudah menampakkan hasilnya. Misalnya habis mandi terus dipakaikan baju, nanti dia nyodorin tangan kanannya dulu. Kelihatannya sepele ya? Padahal ini sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Dan aku perhatikan, sudah berapa orang ya… yang terjadi justru sebaliknya. Sewaktu memakaikan baju ke anaknya atau ke anak kecil, mulainya malah tangan kiri duluan. Eh..pas lepas baju malah yang kanan duluan. Kalau sedang lepas baju, biasanya lepas celana ding yang keliatan, nanti yang berdiri kaki kiri duluan (jadinya kita kan bisa ngelepasin bagian celana yang kiri dulu tuh). Masalah pakai sandal juga gitu lho. Karena dah dibiasain kaki kanan duluan, biasanya dia kalau kita mau pakaikan sandal, juga dah nyodorin kaki kanan duluan.

Yang masih susah dibilangin tuh, makan pakai tangan kanan. Yang ini masih lupaaa terus. Padahal baru 1 detik yang lalu dibilangin, tetap nanti tau-tau yang masukin makanan tangan kiri. Setidaknya usianya masih 16 bulan ya. Mudah-mudahan insya Allah masih bisa dibentuk. Yang susah tuh, orang dah gede, tapi susah dibilangin kalau makan dan minum pakai tangan kiri. (Padahal hukum makan dan minum dengan tangan kiri bukan sekedar makruh lho, tapi haram). Ada aja alasannya, yang kidal gimana dsb. Padahal gak ada pengecualian dalam hal ini, karena yang seperti ini bisa dilatih insya Allah.

Yang lebih menyedihkan lagi adalah, ketika kita susah payah melatih anak kita makan dan minum dengan tangan kanan, tapi ya itu, orang-orang di sekitar kita makan dan minum dengan tangan kiri (dengan santainya pula). Asli lho, masalah ini nih, masalah kebiasaan. Soalnya dulu aku refleknya juga pas minum pakai tangan kiri. Ini sebenarnya hasil budaya barat lho. Bukan dariIslam. Karena kalau di Islam, makan pakai tangan kanan, (dan walaupun tangannya kotor bekas makan), minumnya juga tetap pakai tangan kanan. Apa susahnya sih nyuci gelas sebentar, daripada melanggar perintah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.

Reflek Mandi dan Naik Tangga
Yang ini lucu. Kalau dibuka baju dan celananya (padahal maksudnya cuma mau ganti baju dan celananya yang sudah belepotan), ternyata dia langsung lari ke kamar mandi.
“Ehhh…Syaikah gak mandi kokk…Umi cuma mau gantiin baju Syaikhan…”

Bang Hen yang melihat kejadian itu langsung ketawa geli. Pernah juga aku lepas celananya aja, dia juga langsung mau lari ke kamar mandi. Kalau yang ini bukan mau mandi. Soalnya kebiasaan juga nyuci kakinya yang kotor banget kalau dah main seharian (hasil nginjek makanan etc yang berceceran di lantai).
Kalau reflek mau naik tangga tuh kalau pakai sendal. Jadi, kalau aku dah memakaikan sendal, langsung dia manjat tangga. (Padahal belum tentu juga). Tapi kalau emang pas lagi mau aku ajakin ke lantai atas, paling aku sibuk nyuruh dia menunggu,

“Intadziirr…intadzirr…” (Tunggu! Tunggu!)

Berhubung sejak minggu kemarin, mulai sering diajak jalan keluar (tanpa kereta), sekarang kalau pakai sendal dia gak selalu langsung ke tangga. Malah seneng banget kali yaa kalau mau diajakin keluar. Tapi karena lagi hujan terus, ya gak selalu bisa diajak keluar.

Mulai Susah Dilarang
Kalau kemarin-kemarin, sekali panggilan keras dia langsung nengok dan menghentikan aksi yang sedang dilakukannya, sekarang-sekarang agak susah menghentikan atau melarang ulahnya. Malah seringnya, dia melanjutkan aksinya. Bikin Abi sama Umi emosi dehhh…Mesti benar-benar ditangani terjun ke lapangan dia beraksi. Hehehe…Gak bisa kalau cuma dipanggil atau dilarang pakai omongan. Harus langsung ditarik atau kita tahan badannya. Yaa…aku sama bang Hen masih belajar tidak menampakkan emosi itu. Kadang kelepasan keluar eluhan, – dan ini ternyata ditiru juga sama Syaikhan-. Jadi, mesti banyak-banyak tarik napas dan kontrol nada suara.

Ada juga kebiasaan bang Hen yang memberi pukulan di meja atau benda di dekat Syaikhan (maksudnya seperti ancaman gitu kali ya), ternyata diserap secara negatif oleh Syaikhan. Kalau dia tidak mendapatkan keinginannya, sekarang dia mukul-mukul benda-benda di sekitarnya (termasuk Uminya). Jadi bahan koreksi deh buat bang Hen. Kalau kebiasaan negatifku yang aku sadar setelah ada Syaikhan adalah menunjuk dengan tangan kiri. Wah, jadi orang tua itu, membelajarkan anak dan membelajarkan diri sendiri lho ternyata. Soalnya kan kita maunya anak itu hasilnya positif toh, kalau kitanya negatif kayanya naif banget melatih anaknya untuk positif kan? Dalam segala hal lho. Kalau yang ini, bang Hen yang mengingatkan. Aku pikir tadinya gak ada masalah. Sampai aku dengerin kajiannya ust. Armen Halem Naro rahimahullah, ternyata menunjuk dengan tangan kiri tuh termasuk perendahan terhadap orang yang diajak berbicara juga ya. Yah, pokoknya negatif deh. Jadinya, kalau yang ini jadi bahan koreksi buat aku sendiri.

Bisa diPerintah
Mungkin aku sama bang Hen mesti menemukan cara melarang dengan metode perintah yang tepat. Soalnya kalau diperintah, Syaikhan akan berusaha melaksanakan perintah itu. Misalnya disuruh ambil sesuatu,
“Khudz!! Khudzz.!! Hunaaak….Ambil….Itu di sanaaa…Khudzz!!”
Dia langsung celingukan deh, terus ngambil sesuatu, walau kadang gak tepat. Soalnya arah pandangan dia masih belum tepat dengan barang yang kita tunjuk. Atau kalau kita suruh duduk, dia langsung duduk. Kita bilang, bobo, dia langsung ngerebahin kepalanya. Perintah lainnya yang dia ngerti,
“Tutuuupp…tutup…ighlaq ighlaq! ” (tutup kulkas)
“Taruh…taruh! Dlo’ Dlo’! (meletakkan barang)
“Kasih Umi…kasih umi…” (memberikan barang)

Bisa Adzan

Hehehe…yang ini ga serius keluar kata Allahu AKbar lah ya…orang belum ada kata satupun yang secara jelas dia benar pengucapannya. Kejadiannya, waktu dia seperti biasa minta diceritain isi gambar-gambar yang ada di majalah. Waktu itu yang dipegang majalah Tashfia (yang udah ga terbit lagi). Kan’ banyak gambar mesjidnya. Terus aku ceritain deh…

“Ini masjidd…..Ini tempat orang sholat. Ini menaranya. Kalau adzan kedengeran dari sini. Allahu Akbar Allaaaahu AKbar…”

Aku lanjutin deh adzannya….Ehhhh ternyata dia menyenandungkan adzan juga lho. Abis itu kalau ditunjukkan gambar masjid, atau Abi mencontohkan adzan juga, dia langsung adzan juga.

“Enggg…..ennnnnnnggg engggg….”

Yang heran itu tadi malam. Seperti biasa, kalau kita sedang kerja di depan komputer, ada saat-saat dia nyelip ke pangkuan kita. Tadi malam di kasih liat gambar-gambar yang ada di komputer sama bang Hen. Eh..pas dikasih liat gambar Masjidil Haram yang dari luar angkasa (padahal kan gak keliatan gambar masjid lho), dan kita gak ngomong apa-apa, tau-tau dia mulai adzan. Waahh…subhanallahh….

Mudah-mudahan jadi ulama ya sayang…atau jadi yang lainnya asal bermanfaat untuk orang banyak terutama untuk membantu agama Allah. Aamiin…

Karena kemarin banyak juga point perkembangan yang ketinggalan, dan sekarang juga dah nambah lagi perkembangan lainnya, sekalian aja deh dijadikan satu. Soalnya ada juga poin yang kemarin, pada bulan ke-16 ini berkembang kemampuannya. Apa sajakah itu??

Mulai Bisa Duduk Tegak Sendiri
Gimana ya membahasakannya. Intinya sebenarnya, sebelum-sebelumnya pun dia dah bisa duduk sendiri. Tapi yang ini posisinya duduk seperti di bangku. Wah… dia seneng banget. Kemarin-kemarin biasanya dia ngambil posisi duduk di meja pendek. Tapi kakinya tetap menjuntai-juntai. Akhirnya meja lipat pun juga jadi sasaran duduk. Alhamdulillah beberapa hari yang lalu, bang Hen sempatin beli kursi kecil merk Lion Star. Persis banget kaya punyaku yang di Jakarta. Itu dari aku kecil sampai aku seumur sekarang masih awet lho. Modelnya gak aneh-aneh kok. Polos aja. Cuma yang ini ada gambarnya di tempat dudukannya. Mungkin punyaku yang di Jakarta, dulu juga ada gambarnya ya? Aus di makan usia. Huhuhuh…

Makannya Tetap Susah

Untuk urusan makan nih, susaahhh banget. Sampai-sampai kalau bangun tidur tuh rasanya mau nangis, pusing mikirin “Hari ini kasih makan apa ya buat Syaikhan???” Soalnya kadang (sering ding), udah dibikinin susah-susah, ternyata dia juga tetap gak mau makan. Hik…alternatif sebulan ini, biasanya pakai Taro. Sadar banget sih kalau itu ada MSG-nya. Banyak malah. Tapi gimana. Soalnya walau lapar, kalau memang gak mau makan, ya dia gak makan. Tapi kalau disodorin nasi pakai taro, atau kita bilangin, “Taro…taroo..”, buka deh mulutnya.

Kemarin tapi seneng banget, dia lahap banget pas aku bikin lemper dadakan. Lagi senang, boleh ngambil daun pisang tetangga. (Kan ngeri loh kalau pakai barang-barang haram, mau kaya gimana do’a gak terkabul kalau dah mengkonsumsi barang haram, wal ‘iyya dzu billah). Sempat juga kemarin aku gorengin limpa sisa makan kemarin. Wahh…lahap sekali. Coba tiap hari ya Sayaang…

Hasil Ajaran Mulai dari yang Kanan

Alhamdulillah, pembiasaaan pemakaian baju yang dimulai kaki kanan dan lepas baju celana yang dimulai dengan kaki kiri juga sudah menampakkan hasilnya. Misalnya habis mandi terus dipakaikan baju, nanti dia nyodorin tangan kanannya dulu. Kelihatannya sepele ya? Padahal ini sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Dan aku perhatikan, sudah berapa orang ya… yang terjadi justru sebaliknya. Sewaktu memakaikan baju ke anaknya atau ke anak kecil, mulainya malah tangan kiri duluan. Eh..pas lepas baju malah yang kanan duluan. Kalau sedang lepas baju, biasanya lepas celana ding yang keliatan, nanti yang berdiri kaki kiri duluan (jadinya kita kan bisa ngelepasin bagian celana yang kiri dulu tuh). Masalah pakai sandal juga gitu lho. Karena dah dibiasain kaki kanan duluan, biasanya dia kalau kita mau pakaikan sandal, juga dah nyodorin kaki kanan duluan.

Yang masih susah dibilangin tuh, makan pakai tangan kanan. Yang ini masih lupaaa terus. Padahal baru 1 detik yang lalu dibilangin, tetap nanti tau-tau yang masukin makanan tangan kiri. Setidaknya usianya masih 16 bulan ya. Mudah-mudahan insya Allah masih bisa dibentuk. Yang susah tuh, orang dah gede, tapi susah dibilangin kalau makan dan minum pakai tangan kiri. (Padahal hukum makan dan minum dengan tangan kiri bukan sekedar makruh lho, tapi haram). Ada aja alasannya, yang kidal gimana dsb. Padahal gak ada pengecualian dalam hal ini, karena yang seperti ini bisa dilatih insya Allah.

Yang lebih menyedihkan lagi adalah, ketika kita susah payah melatih anak kita makan dan minum dengan tangan kanan, tapi ya itu, orang-orang di sekitar kita makan dan minum dengan tangan kiri (dengan santainya pula). Asli lho, masalah ini nih, masalah kebiasaan. Soalnya dulu aku refleknya juga pas minum pakai tangan kiri. Ini sebenarnya hasil budaya barat lho. Bukan dariIslam. Karena kalau di Islam, makan pakai tangan kanan, (dan walaupun tangannya kotor bekas makan), minumnya juga tetap pakai tangan kanan. Apa susahnya sih nyuci gelas sebentar, daripada melanggar perintah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.

Reflek Mandi dan Naik Tangga
Yang ini lucu. Kalau dibuka baju dan celananya (padahal maksudnya cuma mau ganti baju dan celananya yang sudah belepotan), ternyata dia langsung lari ke kamar mandi.
“Ehhh…Syaikah gak mandi kokk…Umi cuma mau gantiin baju Syaikhan…”

Bang Hen yang melihat kejadian itu langsung ketawa geli. Pernah juga aku lepas celananya aja, dia juga langsung mau lari ke kamar mandi. Kalau yang ini bukan mau mandi. Soalnya kebiasaan juga nyuci kakinya yang kotor banget kalau dah main seharian (hasil nginjek makanan etc yang berceceran di lantai).
Kalau reflek mau naik tangga tuh kalau pakai sendal. Jadi, kalau aku dah memakaikan sendal, langsung dia manjat tangga. (Padahal belum tentu juga). Tapi kalau emang pas lagi mau aku ajakin ke lantai atas, paling aku sibuk nyuruh dia menunggu,

“Intadziirr…intadzirr…” (Tunggu! Tunggu!)

Berhubung sejak minggu kemarin, mulai sering diajak jalan keluar (tanpa kereta), sekarang kalau pakai sendal dia gak selalu langsung ke tangga. Malah seneng banget kali yaa kalau mau diajakin keluar. Tapi karena lagi hujan terus, ya gak selalu bisa diajak keluar.

Mulai Susah Dilarang
Kalau kemarin-kemarin, sekali panggilan keras dia langsung nengok dan menghentikan aksi yang sedang dilakukannya, sekarang-sekarang agak susah menghentikan atau melarang ulahnya. Malah seringnya, dia melanjutkan aksinya. Bikin Abi sama Umi emosi dehhh…Mesti benar-benar ditangani terjun ke lapangan dia beraksi. Hehehe…Gak bisa kalau cuma dipanggil atau dilarang pakai omongan. Harus langsung ditarik atau kita tahan badannya. Yaa…aku sama bang Hen masih belajar tidak menampakkan emosi itu. Kadang kelepasan keluar eluhan, – dan ini ternyata ditiru juga sama Syaikhan-. Jadi, mesti banyak-banyak tarik napas dan kontrol nada suara.

Ada juga kebiasaan bang Hen yang memberi pukulan di meja atau benda di dekat Syaikhan (maksudnya seperti ancaman gitu kali ya), ternyata diserap secara negatif oleh Syaikhan. Kalau dia tidak mendapatkan keinginannya, sekarang dia mukul-mukul benda-benda di sekitarnya (termasuk Uminya). Jadi bahan koreksi deh buat bang Hen. Kalau kebiasaan negatifku yang aku sadar setelah ada Syaikhan adalah menunjuk dengan tangan kiri. Wah, jadi orang tua itu, membelajarkan anak dan membelajarkan diri sendiri lho ternyata. Soalnya kan kita maunya anak itu hasilnya positif toh, kalau kitanya negatif kayanya naif banget melatih anaknya untuk positif kan? Dalam segala hal lho. Kalau yang ini, bang Hen yang mengingatkan. Aku pikir tadinya gak ada masalah. Sampai aku dengerin kajiannya ust. Armen Halem Naro rahimahullah, ternyata menunjuk dengan tangan kiri tuh termasuk perendahan terhadap orang yang diajak berbicara juga ya. Yah, pokoknya negatif deh. Jadinya, kalau yang ini jadi bahan koreksi buat aku sendiri.

Bisa diPerintah
Mungkin aku sama bang Hen mesti menemukan cara melarang dengan metode perintah yang tepat. Soalnya kalau diperintah, Syaikhan akan berusaha melaksanakan perintah itu. Misalnya disuruh ambil sesuatu,
“Khudz!! Khudzz.!! Hunaaak….Ambil….Itu di sanaaa…Khudzz!!”
Dia langsung celingukan deh, terus ngambil sesuatu, walau kadang gak tepat. Soalnya arah pandangan dia masih belum tepat dengan barang yang kita tunjuk. Atau kalau kita suruh duduk, dia langsung duduk. Kita bilang, bobo, dia langsung ngerebahin kepalanya. Perintah lainnya yang dia ngerti,
“Tutuuupp…tutup…ighlaq ighlaq! ” (tutup kulkas)
“Taruh…taruh! Dlo’ Dlo’! (meletakkan barang)
“Kasih Umi…kasih umi…” (memberikan barang)

Bisa Adzan

Hehehe…yang ini ga serius keluar kata Allahu AKbar lah ya…orang belum ada kata satupun yang secara jelas dia benar pengucapannya. Kejadiannya, waktu dia seperti biasa minta diceritain isi gambar-gambar yang ada di majalah. Waktu itu yang dipegang majalah Tashfia (yang udah ga terbit lagi). Kan’ banyak gambar mesjidnya. Terus aku ceritain deh…

“Ini masjidd…..Ini tempat orang sholat. Ini menaranya. Kalau adzan kedengeran dari sini. Allahu Akbar Allaaaahu AKbar…”

Aku lanjutin deh adzannya….Ehhhh ternyata dia menyenandungkan adzan juga lho. Abis itu kalau ditunjukkan gambar masjid, atau Abi mencontohkan adzan juga, dia langsung adzan juga.

“Enggg…..ennnnnnnggg engggg….”

Yang heran itu tadi malam. Seperti biasa, kalau kita sedang kerja di depan komputer, ada saat-saat dia nyelip ke pangkuan kita. Tadi malam di kasih liat gambar-gambar yang ada di komputer sama bang Hen. Eh..pas dikasih liat gambar Masjidil Haram yang dari luar angkasa (padahal kan gak keliatan gambar masjid lho), dan kita gak ngomong apa-apa, tau-tau dia mulai adzan. Waahh…subhanallahh….

Mudah-mudahan jadi ulama ya sayang…atau jadi yang lainnya asal bermanfaat untuk orang banyak terutama untuk membantu agama Allah. Aamiin…

English Practice

November 25, 2008

Sejujurnya, waktu ada komentar dari seorang guru bahasa Inggris, rada malu-malu juga. Teringat beberapa entri yang menggunakan bahasa Inggris. (Terutama tentang pekerjaan desain mendesain sih). Soalnya sadar diri deh, grammarnya rada kacau balau. Maklum, sudah berapa tahun juga gak dipakai. Apalagi sempat kelupa banget pas belajar bahasa Arab juga (sayang bahasa Arabnya masih tetap belum bisa bercas cis cus dengan lancar nih).

Tapi karena keingat sama tulisan pak Donny yang pernah bang Hen buka dan sempat aku baca sekilas, terus kemarin juga buka websitenya Orangemood – yang dia tetap mau kursus bahasa Inggris, padahal ya..gitu deh -, jadinya lanjut aja deh. Kalau gak latihan dan dipraktekkan langsung, gimana mau belajar dan gimana mau tahu kesulitan grammarnya dimana. Paling-paling kalau gak dilatih, cuma tau ‘sulit’ aja. Tapi gak tau dimana letak kesulitannya.
Sekarang mikirin gimana melatih bahasa Arabnya juga nih. Sasarannya anakku tercinta nih. Ceritanya saling belajar. Euumm…sepertinya kurang tepat. Bukan saling belajar, tapi mengajarkan dan membelajarkan diri. Mesti banyak-banyakin vocab bahasa Arabnya dulu. Semoga Allah memudahkann…

Walau cuma sebulan, banyaakk banget perkembangan Ziyadu Syaikhaini ini.

Suka cuap-cuap. Memang sampai umur sekarang, Ziyad belum keluar satu katapun secara jelas. Tapi, masya Allah… gaya ngomongnya itu kesannya sudah ahli ngomong. Pertama mulainya, kalau ngga salah dia suka pegang hp kami yang sudah rusak. Terus gayanya seperti Abinya kalau terima telepon. Udah deh, ternyata abis itu dia cuap-cuap ga jelas. Tapi kesannya ngomong beneran.

“Peca peca peca peca peca peca…”

Terus, mulai suka kaya orang baca, abis ketemuan sama am Jepi (adikku tercinta), tiba-tiba dia pegang kertas petunjuk pemakaian remote mobil (dapat hadiah dari am Jepi mobil remote control), terus keliling rumah sambil pegang kertas, mulutnya cuap-cuap. Ceritanya baca gitu…

“Peca peca…. peca peca…” Ada sampai 10 menitan kaya gitu. Sempat direkam Abinya di hp selama 5 menit. Ga berhenti-berhenti lho kaya gitu. Sekarang, kalau diajak ngomong jadinya dia suka njawab-njawab gitu. Tapi gak jelas ngomong apa.

Plagiat sejati. Wah… sesuatu yang dilihat cuma sekali, tapi dia sudah nangkep dan bisa niru walapun mungkin gak saat itu. Contohnya banyak. Pernah sekali, waktu mandiin dia, aku nyikati lantai kamar mandi yang kotor. Kemarin malam, pas bang Hen bantuin nyebokin dia, suasana ribet banget di kamar mandi. Ternyata Ziyad lagi berusaha pegang sikat kamar mandi, dan udah sempet dipraktekkin gerakan nyikat-nyikat.

Ada juga sapu tangan yang udah aku setrika licin, tapi belum sempat dimasukkan ke lemari. Dia ambil, terus mulai elap-elap CPU yang teronggok di kamar. Haduww… mesti dicuci lagi deh. Itu juga niru gerakan aku kalau lagi ngelap-ngelap meja makan dll.

Kalau niru gerakan abi sama umi main komputer, wahh… jangan ditanya. Dah expert banget. Udah 2 mouse juga rusak dimainin sama Ziyad Syaikhan ini.

Mulai suka lihat gambar. Jadinya heboh kalau lihat gambar-gambar. Ada gambar di kemasan susu ultra yang gede. Langsung teriak-teriak heboh, “HEEHH…HEEEHH…!!!” Ini maksudnya dia ngomong sesuatu. Panpersnya yang banyak gambarnya, dulu-dulu mah gak sadar dan gak peduli. Sekarang suka pegang-pegang terus minta diceritain isi gambarnya sama kami. Buku Marketing Revolution yang lagi bang Hen pinjam dari peminjaman buku kan banyak gambarnya tuh. Jadinya berebutan juga deh kalau Abinya sedang mau baca.

Jarinya bisa menunjuk. Aku tahu awalnya. Bang Hen kalau sedang baca Al-Qur’an terus Ziyad mau ikutan, biasanya terus ditunjukkin ayatnya pake jari . Terus ditambah lagi sekarang dia suka lihat-lihat gambar. Otomatis sambil nunjuk-nunjuk gambarnya kita ceritain isinya. “Ini cumi-cumi. Ini kapal selam. Ini bintang.” Nanti dia ikutan juga deh nunjuk-nunjuk.

Suka main dan bisa main sendiri. Insting bermainnya dah sangat berkembang. Sebenarnya aku sadarnya waktu ikutan ta’lim di Mushola Teknik UGM. Dia mulai niru apa yang dilakukan anak lain. Kalau sekarang denger suara anak kecil lain yang ada di luar rumah, dia langsung lari ke depan, nempel di kaca depan. Mainan-mainannya juga udah bisa dimainin sendiri. Maksudnya seru sendiri gitu. Kalau dulu kan rada gak peduli.

Ada kebiasaan dia yang ternyata bener itu kebiasaan dia. Kalau nenen di tempat tidur, dia sukanya sambil pegang mainan. Nanti badan Umi dijadiin sandaran/landasan buat motor atau mobil-mobilan yang dipegangnya. Kadang niat banget dia mau ngelakuin kebiasaannya ini. Pernah aku ajakin nenen. Kok cuma sebentar dia udah keluar kamar. Ya udah aku keluar juga. Ternyata di luar dia lagi pegang mainan, terus ngeliat aku keluar dia langsung nangis. Wah… ternyata keluar cuma mau ambil mainan terus balik lagi ke kamar. Tadi malam soalnya kaya gini lagi. Cuma akunya ga keluar kamar dan ternyata dia balik lagi ke kamar setelah ngambil mainan helikopternya.

Suka nyium Abi dan Umi. Senang deh kalau habis dicium. Sering kalau ngeliat Abi lagi tidur, nanti Syaikhan datang sebentar buat nyium. Abis itu keluar lagi. Kalau habis dimarahin (soalnya lagi suka mukul-mukul), nanti dia mbujukin kita dengan cara nyium kita. Hehh… jadi senyum-senyum sendiri kan kalau udah gitu.

Suka manjat-manjat. Dah jatoh berapa kali ya… Suka manjat apa aja. Meja, kursi, tangga. Biasanya aku kasih kesempatan sekali ikut naik ke atas kalau aku lagi jemurin baju atau ngambil baju yang kering. Kalau aku udah pakai jilbab, terus aku bilang, “Ayo… Syaikhan… ta’al (kemari), mau ikut umi ke atas ga?” Dia lari deh ke tangga.

I Have My Past Away

November 11, 2008

Kemarin, aku terkejut dengan hadirnya sebuah komentar, dari seseorang di masa lalu. (Sayangnya tak dapat ku approve demi maslahatku sendiri). Tepatnya sekitar 7 tahun yang lalu. Aku hanya bertemu dengannya sekali, pada bulan Desember 2001 atau Januari 2002. Aku lupa waktu tepatnya, namun di sekitar 2 bulan itu. Aku mengingatnya karena aku dalam masa transisi dari pekerjaan lama sebagai operator warnet menjadi seorang designer graphics. Dari pekerjaan di daerah paling timur jakarta yaitu bekasi, menuju ke daerah paling barat dari jakarta, yaitu bintaro atau tangerang.

Kembali… dia adalah seorang wanita, yang mungkin pernah terusik dengan kehadiranku di kehidupannya. Yang mengagumkan adalah dia tetap mengingatku, bahkan namaku setelah 7 tahun lamanya. Karena salah satu hal yang dianjurkan bagi seorang muslim untuk menghilangkan prasangka buruk saudaranya, maka ku tuliskan hal ini.

Aku memang memiliki masa lalu. Masa lalu yang tidak selalu baik. Namun tidak perlu kuceritakan apa saja yang tidak terlalu baik. Karena suatu kebodohan pula (kecuali untuk memberi ibroh [pelajaran] kepada orang lain), jika Allah telah menutupi ‘aib pada diri seseorang, kemudian dia mengumbar-ngumbar sendiri ‘aib tersebut. Dan salah satu kebaikan seorang muslim kepada muslim yang lainnya adalah menutupi ‘aib saudaranya, sehingga semoga di akherat nanti, Allah akan menutupi ‘aibnya di hadapan seluruh makhluk.

Aku memang telah mengenakan jilbab sejak tahun 2000. Namun, pemakaian jilbab bukan berarti segala-galanya, saudariku. Bukan berarti aku adalah orang yang sangat paham agama atau syari’at yang seharusnya aku jalankan. Jikapun aku tahu, aku hanya tahu sedikit, dan belum ada rasa takut, harap dan cinta yang benar kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku memang belum mendapat hidayah saat itu. Sehingga seperti kabur antara hal yang baik dan buruk. Ditambah lagi teman dan lingkungan yang tidak mendukung akan hal itu, sehingga aku tidak paham apa tujuan hidup ini sebenarnya. Pemakaian jilbab hanyalah salah satu langkah kecil bagi seorang wanita dalam menjalankan syari’at-Nya. Dan itupun harus dijaga keistiqomahannya.

Alhamdulillah… kini aku telah menapaki hidup baru. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi hidayah taufik-Nya padaku, sehingga aku tidak hanya merasakan nikmat lil islam, tapi juga nikmat fil islam, yaitu kesadaran untuk menjalankan syari’atnya dengan sesungguhnya dan dengan cara yang benar. Jilbabku tidak seperti dulu, bahkan saat ini hampir menutupi seluruh badanku (bahkan juga wajahku). Aku juga tidak sembarangan berkomunikasi dengan seorang laki-laki. Bahkan para tamu laki-laki yang masuk pun berada di balik hijab bersama suamiku, sehingga aku tidak melihat mereka.

Itulah sedikit yang bisa kuceritakan, perubahan yang ada pada diriku setelah 7 tahun. Alhamdulillah, inilah yang aku cari selama ini. Akhirnya aku menyadari bahwa tujuan hidup ini yang paling mendasar adalah beribadah kepada Allah. Wa maa kholaqtu jinna wal insan illa liya’buduun... “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan agar beribadah kepadaku.”

Dengan kesadaran itulah kebahagiaan akan hidup ini benar-benar terasa membahagiakan, insya Allah, karena kalau tidak, kita mungkin tidak akan pernah bahagia, karena biasanya kebahagiaan manusia diidentikkan dengan kebahagiaan dunia yang semu, kesukesan materi, kedudukan, pekerjaan dan lainnya.

Jadi… mungkin ini sekaligus perkenalan baru kita dengan seorang Cizkah yang baru. Cizkah yang telah melompat dari kehidupan yang satu menuju kehidupan yang lainnya, berusaha meraih kehidupan yang lebih baik, di dunia dan akhirat insya Allah.

Semoga Allah tetap memberi keistiqomahan itu padaku, dan memberi hidayah taufik itu pula padamu saudariku. Aaamiin.

Aku ingat bagaimana Sahabat Umar radhiallahu ‘anhu pernah menangis dan tertawa mengingat masa lalunya di kala masih kafir. Ia menangis karena pernah mengubur anaknya hidup-hidup dan ia tertawa karena mengingat ketika ia lapar, kemudian ia memakan sesembahannya yang terbuat dari roti. Begitulah masa lalu seseorang, bahkan seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sekalipun, ketika hidayah itu belum datang, pernah pula melakukan kesalahan-kesalahan. Namun pintu taubat masih terbuka dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Semoga kesalahan-kesalahanku di masa lalu telah Allah ampuni dengan aku berusaha berbuat kebaikan di masa sekarang. Aamiin.