The Little Story About the Journey to Jambi…

September 23, 2008

-1 H:

Angkut-angkut barang ke tempat Andria (sebagian). Itupun udah 5 tas! Kalau bahasa jambinya, badan tuh dah keju-keju. Sepanjang perjalanan, hampir semua bagian tubuhku bekerja. Tangan kanan menahan tas di lengan, tangan kiri menahan tas berusaha tetap seimbang, karena isinya selimut dan bentuk tasnya hampir bulat.

Jari-jemari dan lengan juga sibuk mempertahankan badan dan kepala Ziyad Syaikhan yang duduk di antara aku dan bang Hen. Alhamdulillah terlalui proses pengangkutan pertama ini,

hari H (20 September’08)

So many things to do an to done.

= Dari beberes yang belum terlalu beres. Tinggal barang pritil-pritil, tapi menghabiskan waktu dan tenaga juga. Tamu yang masih berdatangan. Ada Anik yang memberi artikel muslimah, ada mba Hanifah yang melepas kepergian. Ada Abu Aisya (yang kepengen dateng tapi ga jadi).

= Menyelesaikan urusan dengan para tetangga.

= Bang Hen yang harus menyelesaikan proposal dan file lain berkaitan dengan kerjaan di penalette.Sampai detik-detik terakhir benar-benar (dipaksain) selesai semua urusan. Tapi akhirnya ada juga yang tidak bisa terselesaikan. Maaf ya Cel, telat ngirim imelnya

Jam 12 kita baru berhasil berada di luar rumah. Bang Hen yang sudah sedikit panik karena waktu yang semakin mendesak merasa barang-barang terlalu banyak. Alhamdulillah bisa diyakinkan, “Insya Allah bisa bang!”

Jam 13.30 wib, kita berangkat menggunakan 2 taksi. Syaikhan seperti biasa, tiba-tiba jadi paranoid ketika mau masuk taksi. Alhamdulillah bisa ditenangkan. Waktu masuk bis pertama kali juga gitu dan setiap kali masuk bis, sepanjang perjalanan juga seperti itu. Alhamdulillah cuma sebentar dan sekedar nangis sebentar.

Dari bis Ramayana, ternyata kita mendapatkan fasilitas snack dan makan gratis sekali. Sekitar jam 18.00 wib, kita berhenti di rumah makan gerbang elok untuk berbuka puasa.

pemberhentian pertama, 1 bis pada pusing abis dibawa puter2 merbabu

Hari ke-2 (21 Setember 2008)

Pukul 01.00 am, bis berhenti lagi (kata pak supir, “Sahur..sahur!” :D

Ziyad Syaikhan yang sedang tidur nyenyak terpaksa juga harus bangun. Kesempatan bisa membasuh daerah pantat dengan sabun untuk menghindari iritasi. Kalau mandi,sampai saat ini belum bisa diharap kan.

Sekitar pukul 07.00 wib, kita sampai di daerah Merak. Kampung halaman(?) suami Uus tercinta. :P Bis berhenti di rumah makan yang antrian kamar mandinya sangaatt panjang.

Pukul 07.30 wib, bis masuk kapal. Waah….sudah mau menyebrang ke pulau sumatraaaa. Rasanya gimanaaaa gitu. Kapal ternyata sudah bergerak, dan aku tetap tidak merasakan adanya gerakan kapal, yang kata suami sangat cepat bergerak.

Ternyata sekitar pukul. 10.00 wib kita sudah sampai di pulau Sumatra! Terlihat dari jendela kapal, pohon-pohon kelapa melambai-lambai tanda kita sudah berlabuh.

Bang Hen bilang, “Dek…dah sampai”, sambil menunjuk lubang jendela.

Perkiraan perjalanan di laut sekitar 4 jam ternyata meleset. Mungkin sejak terakhir bang Hen pulang ke Jambi (5 tahun yang lalu), kapalnya belum secanggih sekarang mesinnya.

Agak haru biru juga perasaan ini ketika melewati rumah-rumah di awal daratan sumatra yang aku lalui. Nama-nama Islam terlihat di plang-plang usaha mandiri di pinggir jalan.

Lama kelamaan agak heran juga, ternyata hampir di setiap rumah ada semacam pura. Lho…bukannya lampung terkenal dengan daerah Islam? Tapi di salah satu pura yang aku lihat, ada tulisan khas Jawa (atau sansekerta). Mungkin itu transmigran yang memeluk agama Hindu ya? Sedih melihatnya.

Pukul 13.30 wib, sampai di rumah makan (lupa namanya). Kesempatan! Aku memandikan syaikhan dengan air dingin. Alhamdulillah Syaikhan tidak terlihat kedinginan. Malah kelihatan menikmati kegiatan mandi yang super darurat itu. Aku sendiri mencoba mengguyurkan air ke seluruh tubuh dan memberi sedikit aroma sabun. Berhubung gamis dan jilbab kemungkinan besar terkena najis di kamar mandi bis, aku juga mengganti seluruh bajuku. Lumayaan…Tapi kalau mengharapkan kesegaran sesudah mandi, sepertinya masih tetap tidak bisa didapatkan.

Pukul 18.10 wib, berhenti lagi di rumah makan. Enak nih, bisnya berhenti sesuai kebutuhan. Jadi, tidak perlu repot-repot pipis di bis dan tidak mesti menahan lapar.

Pukul 23.00 wib, kok berhenti lagi ya bisnya? Tapi aku sama bang Hen tidak ikut keluar. Rasa lelah dan kantuk mengalahkan keinginan dan kebutuhan untuk ikut keluar bersama yang lainnya.

Hari ke-3

Pukul 03.30, “DUH! Kebelet pipis!”. Ini akibatnya kalau tidak mengikuti alur bapak supir supaya tidak sampai melepas hajat di dalam bis. Tapi aku berusaha menahannya. Huhu….apakah bapak supir tidak akan berhenti lagi. Karena seingatku, andria pernah bilang biasanya subuh sudah sampai jambi.

Alhamdulillah, sekitar 5 menit kemudian, bapak supir berhenti di rumah makan Pagi Sore. Wah, enak nih kayaknya buat sahur.

Maaf lagi buat Ziyad Syaikhan yang sedang tidur nyenyak dan harus ikut bangun karena si Umi mesti pipis ke kamar mandi.

Ternyata makan di rumah makan Pagi Sore yang ini tidak terlalu mahal lho. Waktu baru sampai di daerah sumatra, kita beli Patin 2 + nasi 2 bungkus kena Rp. 30.000

Di sini rumah makan pagi sore ini, 4 orang makan disertai 2 the panas, ternyata terkena charge Rp. 68.000,-. Andri yang sempat membeli makan di rumah makan Pagi Sore sebelumnya, hanya berdua dengan Andi makan sudah terkena charge Rp.50.000.

Jam 09.00 wib kita sampai di hotel Wisata tempat mak dan bapak menginap malam sebeluimnya. Waktunya mandi-mandi!!

mall (wannabe) angsoduo

mall (wannabe) angsoduo

OYA, Ziyad Syaikhan masih asing dengan oma opanya. Wah…bisa iba hati nih oma opa.

Pukul 14.30 wib, kita masih berusaha mendapatkan mobil carteran menuju daerah mersam. Dari hotel wisata menawarkan mobil travel dengan tarif Rp. 650.000. (HAH?!!! Yang benar saja). Akhirnya kita mendapatkan mobil kijang (entah dengan tarif berapa) dan sangat berdesak-desakkan di dalamnya. Hik hik…perjuangan menuju rumah suami tercinta belum berakhir. Perjalanan masih panjang?!

Alhamdulillah…. pukul 15.50 wib, aku sudah bisa duduk di sofa rumah suami tercinta. Masih terbengong-bengong oleh kelelahan yang ada. Hmm…sampai tangga

halaman samping rumah bang hen, di depan rumah ada pu un sawitnyah

halaman samping rumah bang hen, di depan rumah ada pu un sawitnyah

l 10 Oktober nanti, .insya Allah aku akan berada di rumah ini. Moga-moga bisa menyelesaikan beberapa pekerjaan dari penalette, supaya ketika sampai di Jogja nanti, bekal kehidupan bisa terisi lagi. ^^

One Response to “The Little Story About the Journey to Jambi…”

  1. Ummu aufa Says:

    Assalamu’alaikum..hampir lbh stengah thn kt tak jumpa,kangeen bgt.sdkt mengobati rasa kangen dg mbca blog mb. Alhamdulillah. Mb byk hal dn crita yg ingn an bagi tp entah kpn. Jk ingat masa2 djogja,saat sakit sedih senang ad teman2 btp bhagianya.mb,an kangeen bgt.qodarulloh dah lama hp an mati,jd sulit komunikasi.mb,khmilan an dah besar.an dah kyk bola,guendhut. Tp gpp yg pnting anakku sehat. An jg g smpat kwarnet,laptop an jg g bs bwt wifi,pnah bntar chat sm mb fera lwt laptop ade.bener2 an spt sndirian mb. Mb,an pingn alamat email mb dong. Y udah mb,smg swtu hr nant kt bs btmu dlm hari yg mbhagiakan. Slm kecup syg bwt ziyad


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: