Indahnya ‘Idul Adha

December 9, 2008

Alhamdulillah…seneeeng bisa masih berhari raya ‘Idul Adha tahun ini. (walaupun sempet nangis dikit, soalnya ternyata masih gak bisa pulang ke Jakarta) :P.

Di kontrakan baru ini, terkaget-kaget sewaktu sekitar sore hari, pintu rumah diketuk,

“Assalamu’alaikum!!”

“Wa’alaikumussalaam…”

“Ini akh, dari pondok”, kata sang tamu.

“Hah, banyak sekali ini.”

“Pada segitu dapat jatah semua”.

Abang masuk rumah sambil ngangkut 4 plastik yang isinya daging kurban. Alhamdulillaahh…Terus abang sibuk cerita kalau tadi lihat di masjid, padahal dari pondok pesantren Jamilurrahman sudah menjatahkan untuk kampung ini, kampung itu dll. Berarti kan banyak buanget dagingnya.

Yang takjubnya, gak lama sesudah itu pintu diketuk lagi. Ternyata dapat 1 plastik lagi jatah dari masjid yang cuma berjarak 1 rumah dari rumah kontrakan kami. Langsung sibuk pilah-pilah deh. Sambil potong sana, potong sini, kami sibuk membahas lagi berbagai komentar di muslimah. or.id, di tulisanku tentang vegetarian. Bang Hen masih terheran-heran dengan fanatiknya para vegetarian (padahal mereka Islam). Kita tahu, karena banyak komentar yang tidak ter-approve karena tidak bermanfaat untuk lainnya dan hanya debat kusir saja nantinya. Kalau mereka mau cari kebenaran, insya ALlah muslimah.or.id dengan senang hati menjawab berbagai pertanyaan. Tapi sayangnya mereka sekedar ingin membela hawa nafsu saja.

“Mereka mendebatmu tentang kebenaran, sesudah nyata kebenaran tersebut.”(Qs. al-Anfal[8]:6)

Aku sempat mengucap, “Bagaimana ini, para vegetarian. Orang-orang mah pada senang dapat daging…”

Padahal disinilah keindahan syari’at ‘Idul Adha ini. Dan berbagai komentar yang masuk dimuslimah dari para vegie itu, kalau dah ditanya gimana mereka dengan syari’at Islam yang jelas-jelas nyata, yaitu ‘Idul Adha dan Aqiqoh. Mereka gak akan bisa jawab. Kalaupun jawab, jawabannya itu cuma dicari-cari aja, bahkan menujukkan bagaimana sebenarnya pemahaman mereka terhadap Islam. Mereka katakan, itu kita gak sejaman sama Nabi Muhammad (shallallahu’alaihi wa sallam), jadi gak tahu gimana praktek kurban. Iman kita gak sebesar nabi Ibrahim, dan alasan-alasan aneh lainnya.

Alasan mereka, aku simpulkan berkisar pada:

1. Rasa kasihan dan mereka mengaku sangat menyayangi makhluk.

Jawabannya : Padahal Allah-lah yang menciptakan makhluk-makhluk tersebut (para hewan). Allah pula yang memerintahkan untuk makan para hewan tersebut. Dan Allah pula yang memerintahkan caranya dengan disembelih dan dengan menyebut nama ALlah pula!! Allah pula yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Jadi alasan mereka ini sangat tidak rasional.

2. Hewan-hewan itu disiksa untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Jawaban: Apapun kesalahan atau cara yang salah dari manusia, bukan berarti kemudian mencari-cari penyelesaian dengan menerjang syari’at. Berusaha membenahi hubungan mereka dengan makhluk Allah, tapi hubungan mereka dengan Allah malah terselewengkan.

upadated

3. Baru nyadar lagi alasan ketiga.

Karena kesehatan. Padahal yg seperti ini tidak bisa digeneralisir. Dikatakan lebih panjang umur dsb.

Dalam Islam, dibolehkan mencari ‘sebab’ yang memang sesuai syari’at.  Misalnya, dalam salah satu hadits, dikatakan silaturahmi dapat memperpanjang umur. Umur disini juga bermacam-macam penjelasan ulama, salah satunya yaitu benar-benar umurnya akan dipanjangkan (agak panjang penjelasannya dan bukan di sini tempatnya).

Atau juga misal makan adalah sebab untuk menghilangkan lapar.

Tapi untuk asalan ‘sehat’ untuk kemudian menjadi meng’anti’kan diri terhadap kenikmatan yang Allah berikan, maka ini yang tidak diperbolehkan.

4. Pilihan??

Salah jika dikatakan menjadi vegetarian itu adalah pilihan. Kalau seperti itu, nanti para pria yang memilih berubah jadi perempuan dan para perempuan yang memilih menjadi laki-laki, juga akan mengatakan hal yang sama. Ini pilihan saya.

Pilihan itu adalah ketika kita tidak menyukai makanan tertentu karena jijik atau tak terbiasa, sebagaimana Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak makan binatang (semacam iguana) karena memang tidak terbiasa.

Tapi Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tetap makan kambing, unta bahkan sangat menyukai memakan lengan kambing.

5. Valid atau tidaknya kehalalan daging yang dimakan

Sesungguhnya setiap hamba tidak dibebankan menjalankan syari’at di luar kemampuannya. Dan usaha-usaha untuk makan makanan yang halal bukan berarti malah mengerjakan sesuatu yang menyelisihi syari’at kan??

Jadinya aneh, mau bertakwa tapi justru memakai cara lain yang merupakan maksiat terhadap syari’at Allah.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam adalah tauladan terbaik. (Maaf ya untuk hadits-haditsnya belum bisa dicantumkan karena sedang letih untuk membuka buku-buku – lagi kurang enak badan). Intinya, misalnya kita tinggal di negara muslim yang memang telah jelas hukum penyembelihan, maka insya Allah kita bisa tenang makan daging-daging yang dijual di pasaran. Kalau tinggal di luar negeri (sebenarnya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah berlepas diri kalau kita tinggal di negeri kafir), ya inipun bisa diusahakan untuk tetap makan makanan yang halal, tapi tetap dengan tidak menjadi vegetarian. Mudah-mudahan kerepotan kita untuk mencari makanan yang halal (di LN) menjadi catatan amal kebaikan. :)

Mudah-mudahan Allah memberi hidayah kepada kita semua untuk dapat mengikuti syari’at seutuhnya dan bukan mengambil sebagian ayat (untuk hawa nafsu) dan meninggalkan ayat-ayat lainnya. Amiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: